KATASUMBAR- Kekayaan seni tradisi Minangkabau tak hanya menyimpan keindahan gerak, tetapi juga merekam nilai adat, penghormatan, dan kenangan yang diwariskan lintas generasi. Salah satunya tergambar dalam Tari Ratok Mayik ka Turun dari Kabupaten Sijunjung yang tampil dalam Panggung Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, Kamis (1/10/2026) malam.

Dibawakan Sanggar Seni Sinar Tampalo, tari tradisi dari Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, itu memperkenalkan sisi lain kebudayaan Minangkabau. Di balik gerak dan irama yang mengiringinya, tersimpan tradisi penghormatan terakhir kepada seorang Datuak yang meninggal dunia.

Ratok Mayik ka Turun merupakan bagian dari tradisi masyarakat Padang Laweh ketika seorang Datuak meninggal dunia. Pada hari kematian, suasana duka diwarnai pertunjukan silat dan tarian yang diiringi bunyi tambur serta talempong di rumah duka dan rumah gadang pasukuan.

Ketika jenazah Datuak dibawa ke rumah gadang pasukuan, ratok atau ungkapan tangis duka menjadi bagian penting dari prosesi tersebut. Ratok dilantunkan dengan irama khas Padang Laweh, menyerupai nyanyian kesedihan yang berisi pantun atau lirik tentang kenangan terhadap Datuak dan keluarganya semasa hidup.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana seni dalam kebudayaan Minangkabau tidak sekadar hadir sebagai hiburan. Seni juga menjadi medium untuk menyampaikan rasa kehilangan, mengenang jasa, serta menunjukkan penghormatan kepada sosok yang memiliki kedudukan dalam kehidupan adat.

Kehadiran Tari Ratok Mayik ka Turun di Saraso Fest 2026 menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenali tradisi yang tumbuh dari lingkungan nagari. Pementasan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kekayaan seni daerah memiliki keterkaitan erat dengan adat, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat pendukungnya.

Selain kesenian dari Sijunjung, panggung Saraso Fest 2026 malam itu juga menampilkan beragam ekspresi seni dari daerah lain. Babiola dan Tari Babuai dari Kabupaten Pesisir Selatan turut memperlihatkan kekayaan tradisi yang tumbuh dan berkembang di Sumatera Barat.

Penampilan seni dari kalangan pelajar juga ikut menyemarakkan panggung kebudayaan tersebut. Tari Malamang yang dibawakan Sanggar Talang Sarueh dari SMK Negeri 7 Padang menjadi salah satu penampilan yang memperkenalkan seni tradisi melalui kreativitas generasi muda.

Sementara itu, Sanggar Sagatok Siriah dari SMP Negeri 1 Padang menghadirkan Tari Mambangkik Marwah. Keterlibatan para pelajar dalam panggung seni ini menunjukkan adanya ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mengekspresikan kekayaan budaya daerah.

Melalui beragam penampilan tersebut, PKD Saraso Fest 2026 tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pertemuan berbagai tradisi dan generasi.

Dari ritual duka di Padang Laweh hingga karya tari yang dibawakan pelajar, setiap penampilan membawa cerita dan nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Sumatera Barat.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.