KATASUMBAR- Duka akibat bencana banjir bandang yang melanda Sumatera Barat pada Desember 2025 masih menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat Minangkabau. Luka kolektif itu kini coba direfleksikan lewat karya musik kontemporer berjudul RASA, yang tampil pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumbar Saraso Fest 2026, Rabu (30/9/2026) malam.
Komposer muda asal Kota Padang, Rofi Rahmatullah, sukses mengeksplorasi kedalaman rasa dengan memadukan nuansa tradisional Minangkabau dan pendekatan musik modern. Ia mengusung konsep Hiraeth, kerinduan terhadap tempat, seseorang, maupun suasana yang telah hilang dan tak bisa kembali sepenuhnya.
“Hiraeth sebagai nama grup dan Rasa sebagai judul karya memiliki kesinambungan yang merepresentasikan emosi rindu terhadap Ranah Minang sebelum bencana, dan juga pilu yang dirasakan masyarakat setelah bencana berlalu,” ungkap Rofi.
Menurutnya, secara musikal, karya RASA tidak sekadar mempresentasikan kesenian Minangkabau, tetapi menjadikannya sebagai simbol kehidupan masyarakatnya.
“Karya ini pada akhirnya merupakan bentuk penghormatan kepada masyarakat yang terdampak dan kepada seluruh orang yang telah menjadi bagian dari peristiwa yang masih menjadi momok bagi masyarakat Minangkabau hingga detik ini,” katanya.
Ia mengaku, motivasi terbesarnya mengangkat fenomena sosial bencana alam ini berangkat dari pengalaman personal. Kerabat dekatnya, Resnafi, yang ia anggap sebagai kakak sendiri, turut terdampak banjir bandang di kawasan Batu Busuk, Padang.
“Yang menjadi saya termotivasi itu, kebetulan kawan-kawan saya di Batu Busuk terdampak kejadian itu, si Pak Resnafi itu kakak saya. Jadi terniatlah di hati saya untuk membuat karya ini untuk mereka, untuk warga Batu Busuk, untuk yang terdampak banjir bandang kemarin,” terangnya.
Untuk merampungkan komposisi ini, Rofi membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan. Kesulitan terbesarnya adalah mencari data dan sumber yang valid terkait peristiwa di Batu Busuk agar karya tetap berpijak pada realitas.
Dalam komposisi soundenai ini, Rofi berkolaborasi dengan sejumlah musisi muda. Kacong memainkan kecapi, Muhammad Ayub alias Ikab meniup seruling Bali, sementara Rofi sendiri memainkan piano yang dipadukan dengan eksplorasi Digital Audio Workstation (DAW).
Perpaduan instrumen etnik dan modern inilah yang menjadi kekuatan utama RASA. Karakter musik etnik Minangkabau dipertahankan sebagai identitas, namun diolah dengan pendekatan kontemporer.
Rofi sendiri telah menggeluti dunia desain musik sejak 2019, saat pertama kali masuk kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Sebelum menciptakan karya sendiri, tahun lalu ia sempat membantu komposer muda lainnya, Bobby Wahyudi, sebagai pemain.
Menurutnya melalui RASA, ia berharap semakin banyak musisi muda Sumatera Barat, khususnya di Padang, yang berani mengeksplorasi sumber-sumber lokal dan menuangkannya lewat teknologi musik digital.
“Harapan saya untuk kawan-kawan yang masih ragu menggunakan DAW, sebuah program pembuat musik di laptop atau komputer, cobalah mengeksplorasi apa yang ada di sekitar kita. Tuangkan ke DAW sebagai publikasi. Hal-hal seperti itu lebih banyak diterbitkan lagi di Sumatera Barat, khususnya Padang,” ujarnya.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

