KATASUMBAR-Musik Gamad Melayu yang tampil di Panggung Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumbar Saraso Fest 2026, Rabu (30/9/2026) malam, menyimpan kisah unik tentang keterbukaan orang Minangkabau terhadap pendatang.
Di atas panggung, Perkumpulan Gamad Malayu Kumbang Jati Kota Padang membawakan lagu-lagu Minang bergenre Melayu dan Gamad dengan instrumen gitar, gendang, pionika, biola, hingga piano. Namun yang paling menarik bukan sekadar alunan musiknya, melainkan siapa yang memainkannya.
Perkumpulan yang sudah berdiri sejak 1969 ini beranggotakan sekitar 20 orang dari berbagai etnis di Indonesia. Ada Minang, Melayu, Nias, hingga Tionghoa. Mereka berlatih rutin setiap Minggu pukul 14.00 WIB di Seberang Palinggam.
“Anggota kita semua etnis ada. Ada dari China, ada dari Nias, ada dari Melayu, ada juga Minang, campur,” ungkap Ketua Perkumpulan Gamad Malayu Kumbang Jati Kota Padang, Yulius Patlan, usai pementasan.
Yulius sendiri bukan orang Minang. Ia asli Nias yang lahir dan besar di Padang. Kecintaannya pada Gamad sudah tumbuh sejak kecil.
“Kalau saya sendiri mulai dari saya kecil lah, SD. Tapi pegang alat musiknya semenjak kelas satu SMP sampai sekarang ini,” ujarnya.
Menurut Yulius, Gamad memang bukan genre yang eksklusif untuk orang Minang. Musik pesisir khas Kota Padang ini lahir dari akulturasi budaya multietnik di kawasan pelabuhan.
“Gamad kita ini genrenya bukan khusus Minang tapi umum. Fokus kita ke lagu Melayu dan lagu gamad,” tegasnya.
Perkumpulan ini dulunya bernama Jamak Cepaka Putih, kemudian berganti menjadi Cepaka Biru, Kumancari, hingga kini Kumbang Jati. Kini mereka telah berbadan hukum dengan akta notaris dan terus berkembang.
Yulius berharap generasi muda mau mencintai dan melanjutkan tradisi Gamad. Pihaknya membuka pintu lebar bagi anak-anak muda untuk dibina, termasuk mereka yang berasal dari basic musik modern seperti band.
“Kesan kita supaya generasi muda dapat mencintai gamad. Kalau tidak ada generasi muda siapa lagi yang melanjutkan. Sekarang saya yang muda, besok saya akan tua. Harusnya ada tunas-tunas yang akan naik,” katanya.
Penampilan Gamad Melayu Kumbang Jati di PKD Sumbar Saraso Fest 2026 menjadi bukti falsafah Minangkabau yang memuliakan tamu. Di tangan para perantau dan warga lokal, tradisi pesisir ini justru terus hidup dan berkembang lintas etnis.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

