KATASUMBAR — UPTD Taman Budaya Sumatera Barat menggelar Workshop Penulisan Karya Sastra pada 5–7 Mei 2026 di Padang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah daerah dalam membina dan mengembangkan pelaku seni budaya, khususnya di bidang sastra.

Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Syaiful Bahri, mengatakan workshop ini tidak sekadar menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi penulis muda untuk mengasah gagasan, mempertajam imajinasi, serta melahirkan karya.

“Workshop ini merupakan kontribusi nyata dalam pemajuan kebudayaan di Sumatera Barat, sekaligus mendorong lahirnya generasi baru penulis sastra,” ujarnya dalam sambutan pembukaan, Rabu (5/5).

Ia menegaskan, Taman Budaya memiliki peran strategis sebagai pusat pembelajaran dan laboratorium kreatif bagi generasi muda. Selain menjaga kelestarian budaya, pengembangan seni juga diarahkan menjadi bagian dari penguatan ekonomi kreatif yang mendukung pembangunan daerah.

Workshop tahun ini mengusung tema “Tanah Suaka, Cipta Sastra Cinta Budaya” dan difokuskan pada penulisan novel. Tema tersebut dimaknai sebagai upaya menjadikan seni dan budaya sebagai ruang perlindungan nilai, identitas, serta kearifan lokal di tengah perubahan zaman.

Menurut Syaiful, regenerasi penulis sastra di Sumatera Barat tidak terlepas dari peran sastrawan lintas generasi yang terus menjaga tradisi literasi. Ia menyebut sejumlah tokoh besar seperti Marah Rusli, Chairil Anwar, Buya Hamka, A.A. Navis, hingga Taufiq Ismail sebagai fondasi kuat perkembangan sastra di daerah ini.

“Tradisi itu terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga kini, didukung komunitas literasi, taman budaya, dan ruang publikasi digital,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, sejak 2022 Taman Budaya Sumbar telah menghasilkan sepuluh judul buku sastra dari berbagai program, mulai dari workshop hingga lomba penulisan cerpen tingkat nasional.

Dalam workshop ini, peserta mendapatkan pembinaan langsung dari penulis nasional Sasti Gotama dan Yetti A. Ka. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang didukung Kementerian Kebudayaan RI.

Sebagai tindak lanjut, tiga naskah novel terbaik dari peserta akan diterbitkan dan diluncurkan pada Festival Sastra Marah Roesli dalam rangkaian Saraso Fest 2026 pada Oktober mendatang.

Syaiful berharap para peserta dapat memanfaatkan workshop ini secara maksimal untuk menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara estetika, tetapi juga kaya nilai dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin membangun ekosistem sastra yang sehat dan berkelanjutan di Sumatera Barat,” tutupnya.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.