KATASUMBAR – Bagi perantau Minang di tahun 1970-an hingga awal 2000-an tentu tidak asing dengan moda transportasi darat.

Moda transportasi darat yang diandalkan untuk pulang dan pergi merantau waktu itu adalah bus antar kota antar propinsi (AKDP).

Salah satu bus yang setia dan tetap eksis hingga kini yakni bus legendaris PO Gumarang Jaya.

Bus PO Gumarang Jaya berwarna khas, dengan dasar putih dengan garis merah, hitam dan biru. Warna tersebut nyaris tidak ada perubahan sejak berdirinya.

Diketahui, bus PO Gumarang Jaya Kudo yang berada dibawah PT Gumarang Kaya Bersama didirikan oleh perantau Minang di Bandar Lampung bernama Alizar Datuk Bagindo.

Alizar Datuk Bagindo mengatakan, bus PO Gumarang Jaya pada tahun pada 1974. Berarti perusahaan ini sudah berdiri kurang lebih selama 48 tahun.

“Asalnya Minang Bukittinggi tetapi bermukim di Lampung. Gumarang ini lahirnya di Lampung namanya dari Bukittinggi,” kata Alizar Datuk Bagindo dikutip dari siarang langsung Facebook Suara Kinari TV, Rabu (16/2/2022).

Ia menjelaskan, pendirian bus PO Gumarang Jaya berdasarkan keprihatinan dan kepedulian saat itu.

“Karena angkutan darat di Pulau Sumatera susah, hingga ke Aceh. Melihat transportasi saat itu jauh dari kata baik dan layak,” ujarnya.

Alizar Datuk Bagindo menyebutkan, di awal pendirian bus PO Gumarang Jaya tahun 1974 itu armada bus PO Gumarang Jaya yaitu Chevrolet C50.

“Dari Bukittinggi ke Jakarta 5-7 hari dengan 7 kali penyeberangan dengan perahu yang ditarik dengan tali,” kata dia.

“Yaitu Sarolangun, Rantau Panjang, Antara Muaro Bungo – Bangko ada 2 penyebrangan, Sinamar, Muaro Tebo, Pulau Musang dan Sungai Dareh,” sambungnya.

Penyebarangan tersebut karena sungai-sungai yang dilewati belum ada jembatan.

Ia juga pernah menceritakan pengalamannya melintasi jalur tersebut dengan bus PO Gumarang Jaya bersama Menteri Perhubungan saat itu Rusmin Nuryadin.

Alizar mengungkapkan alasan nama bus dengan Gumarang.

“Kenapa nama Gumarang, Gumarang merupakan nama kuda Kerajaan Pagaruyung milik Raja Cindua Mato,” ujarnya.

Semua peliharaan Raja Cindua Mato, lanjutnya, ada nama. Nama ayamnya Kinantan, nama kerbau Simanuang dan kuda Gumarang.

“Harapannya dengan nama Gumarang, bukan hanya andalan masyarakat Sumbar tetapi Indonesia,” kata pria berambut putih tersebut.

Nama Gumarang, juga digunakan untuk nama kereta api di Surabaya. Saat itu ada pihak yang menghubunginya meminta izin untuk digunakan.

“Nama Gumarang tidak dipatenkan, siapa saja boleh menggunakan agar nama itu terkenal, supaya tahu Minangkabau dan Raja Cindua Mato,” katanya.

Alizar Datuk Bagindo tentu pantas disematkan sebagai tokoh transportasi di Indonesia.

Alizar melanjutkan, warna bus PO Gumarang Jaya sejak dahulu tidak pernah diganti.

“Warna melambangkan bendera Minangkabau yaitu Marawa, itu bendera. Marawa dapat ditemukan saat orang Minang menggelar pesta,” jelasnya.

Alizar Datuk Bagindo saat ini menginjak usia 86 tahun, kemudian bicara tentang tantangan bisnis transportasi sekarang, sebagian mengeluarkan izin trayek sembrono.

“Peraturan sekarang ini amburadul.
Saya dahulu, minta izin perpanjangan trayek dua hingga tiga hari di Direktorat,” katanya.

Saat ditanya infrastruktur sekarang ini semakin bagus bagaimana peluang bisnis transportasi darat seperti bus. Ia menjawab untuk usaha transportasi bus tidak bagus dengan peraturan yang semrawut.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.