KATASUMBAR – Kota Padang merupakan salah satu kota tua yang terletak di kawasan Pesisir Pantai Barat Sumatera.
Kota Padang memiliki batas-batas sebelah Utara dengan Kabupaten Padang Pariaman, Selatan Kabupaten Pesisir Selatan, Timur dengan Kabupaten Solok dan Barat dengan Samudera Indonesia.
Menurut Sejarawan Universitas Andalas Anatona Gulo, luas Kota Padang sekarang dengan dahulu berbeda. Sekarang kota Padang lebih luas.
Di masa pemerintahan VOC Belanda pada akhir abad 17, yang termasuk Kota Padang adalah daerah sekitar bibir pantai, kira-kira dari Teluk Bayur (dulu Emmahaven) sampai Ulak Karang Purus, dan arah ke timur sampai ke Simpang Haru.
Dahulunya Padang Pariaman mengelilingi daerah Padang.
Pada tahun 1980’an, setelah adanya pemekaran, daerah yang di luar Teluk Bayur sampai Ulak Karang dan Simpang Haru itu sering tersebut dengan Padang Luar Kota, oleh karena itulah ada istilah Padang Kota dan Padang Luar Kota.
“Kalau pertanyaannya siapakah penduduk asli Kota Padang, maka kita mengacu kepada daerah yang kecil tadi (Teluk Bayur sampai Ulak Karang dan Simpang Haru). Dan salah satu pendatang awal ke Kota Padang itu adalah Suku Nias,” kata Anatona Gulo dilansir dari KLIKPOSITIF, Senin 24 Januari 2022.
Katanya, Orang Nias termasuk suku yang senang merantau.
Namun mereka tak punya pilihan soal tujuan merantau dan daerah tujuan utama rantau mereka itu memang ke daerah pesisir pantai barat sumatera.
“Di Aceh orang Nias banyak, di Sibolga juga banyak, di Bengkulu juga, di Meulaboh juga banyak, tapi keberadaan orang Nias itu yang paling menonjol ya di Padang,” katanya.
Ia mengatakan, menonjolnya orang Nias di Padang tidak terlepas dari keberadaan kota Padang sebagai pusat pemerintahan VOC Belanda pada akhir abad ke 17 dulu.
Kota Padang di masa itu dianggap sebagai kota metropolitan yang besar dan tentu menjadi daya tarik bagi orang mengadu nasib.
Suku Nias datang karena merantau
Faktor pertama kedatangan orang Nias ke kota Padang adalah untuk merantau dan mencari peruntungan.
Sementara faktor kedua adalah karena mereka didatangkan oleh orang-orang Belanda atau orang Cina untuk menjadi tenaga kerja di kota Padang.
Cina menganggap orang Nias adalah tenaga kerja yang ulet dan gigih.
“Dan di saat itu pada akhir abad 17 itu tidak banyak tenaga kerja orang Melayu atau orang Minang yang mau, sehingga datanglah tenaga kerja dari Nias,” jelasnya.
Puruih
Salah satu pemukiman terbesar orang Nias di Padang adalah di Puruih.
Nama Puruih ini berasal dari bahasa Nias, yang dibaca ‘furui’ atau ‘vurui’ karena mereka tidak bisa membaca huruf ‘p’. Arti dari kata Puruih adalah ‘melipat’.
Masyarakat Nias yang tinggal di sana sering melihat ombak besar melipat dan menggulung pemukiman mereka, sehingga terucaplah oleh mereka ‘difurui ita’ atau ‘dilipatnya kita’.
Hingga saat ini, kawasan Puruih memang terkenal dengan ombaknya yang besar dan bergulung-gulung ketika menghempas ke tepi pantai.
“Itulah kenapa daerah itu bernama Puruih. Ini dari bahasa Nias, dalam bahasa Minang kita tidak menemukan apa itu Puruih. Dan di sana (Puruih) juga ada makam-makam orang Nias,” ujarnya.
Selain Puruih, nama-nama daerah lain di Kota Padang yang berasal dari bahasa Nias yaitu Hiligoo (Pasar Raya Padang), Banuara (Banuaran), kemudian Sitebai (Siteba).
Masing-masing daerah ini belum berpenghuni saat orang Nias masih datang. Kemudian mereka menghuni daerah tersebut dan menamainya.
(*/KLIKPOSITIF)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

