KATASUMBAR- Sepuluh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) se-Sumatera menyepakati Risalah Bukittinggi sebagai pijakan bersama menuju Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Medan, Sumatera Utara.

Risalah tersebut disahkan pada 19 September 2026 dalam Regional Meeting Muhammadiyah se-Sumatera yang digelar di Hotel Monopoli, Bukittinggi, 18-20 September 2026.

Pertemuan yang digagas PWM Sumatera Barat itu diikuti PWM Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung dan Sumatera Barat.

Ketua Steering Committee sekaligus Sekretaris PWM Sumbar, Drs. H. Apris, M.M., mengatakan pertemuan tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk menyatukan potensi Muhammadiyah di kawasan Sumatera.

“Pertemuan ini menjadi ruang konsolidasi untuk menyatukan potensi dan sumber daya Muhammadiyah di Sumatera agar dapat bergerak secara lebih terarah dan bersinergi,” ujar Apris.

Dalam Risalah Bukittinggi, sejumlah agenda strategis disepakati, mulai dari penguatan tata kelola organisasi, kaderisasi, ekonomi, pendidikan, kemanusiaan hingga transformasi dakwah melalui ruang digital.

Di bidang organisasi, Muhammadiyah se-Sumatera mendorong percepatan transformasi administrasi dan keuangan berbasis digital atau e-governance di seluruh tingkatan pimpinan maupun Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Konsolidasi kader juga menjadi perhatian melalui penguatan program Darul Arqam dan Baitul Arqam.

Sementara di sektor ekonomi, forum menyepakati pembentukan Sumatera Muhammadiyah Economic Forum (SMEF). Forum ini akan menjadi wadah konsolidasi PWM, pelaku usaha dan pimpinan AUM untuk membangun kerja sama ekonomi tingkat regional.

Muhammadiyah se-Sumatera juga menargetkan pembentukan perusahaan induk atau Badan Usaha Milik Muhammadiyah tingkat regional. Sektor yang diproyeksikan dikembangkan meliputi pertanian, logistik, perkebunan hingga platform e-commerce untuk produk UMKM warga Muhammadiyah.

Di bidang pendidikan, AUM didorong bertransformasi menjadi pusat keunggulan yang adaptif terhadap perubahan global dengan memanfaatkan teknologi digital.

Untuk sektor kemanusiaan, forum menyepakati pembentukan klaster logistik bersama guna memperkuat respons terhadap bencana yang melintasi batas wilayah. Penguatan tersebut akan memanfaatkan kapasitas Lembaga Resiliensi Bencana atau MDMC dan LAZISMU di wilayah Sumatera.

Transformasi dakwah juga masuk dalam kesepakatan. Muhammadiyah se-Sumatera mendorong pengembangan gerakan cyber-dakwah dengan memanfaatkan media sosial dan kecerdasan buatan untuk memperluas jangkauan dakwah, termasuk ke masyarakat di kawasan kepulauan.

Dalam aspek kelembagaan, forum mengamanatkan pembentukan Koordinator Regional Sumatera dan meminta Pimpinan Pusat Muhammadiyah segera meresmikan struktur tersebut.

Forum juga mendorong penyempurnaan AD/ART sebagai bagian dari semangat pembaruan atau tajdid dalam organisasi.

Apris mengatakan, seluruh kesepakatan dalam Risalah Bukittinggi akan ditindaklanjuti melalui pembentukan kelompok kerja (Pokja).

Pokja tersebut akan melibatkan perwakilan seluruh PWM se-Sumatera dan bertugas mengawal pelaksanaan berbagai program yang telah disepakati.

“Sebagai tindak lanjut, kami akan membentuk Pokja yang melibatkan perwakilan seluruh wilayah Muhammadiyah se-Sumatera untuk mengawal implementasi hasil kesepakatan ini,” kata Apris.

Risalah Bukittinggi ditandatangani perwakilan sepuluh PWM se-Sumatera dan menjadi hasil utama Regional Meeting Muhammadiyah se-Sumatera yang berlangsung selama tiga hari di Bukittinggi.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.