KATASUMBAR – Pengamat Pariwisata Sumbar, Moch Abdi mendorong para pengunjung untuk berwisata ke desa atau nagari yang ada di Sumbar.
Dia mengatakan desa-desa yang ada di Sumbar punya pesona tersendiri yang tak kalah menggoda. Suasana ini tak bisa ditemui di kota.
Ketua Pusat Pengembangan Desa Wisata Kreatif Fakultas Pariwisata UM Sumatera Barat itu mengatakan, Sumbar memiliki jumlah desa wisata yang sangat banyak, tercatat sekitar 561 hingga 580 desa wisata berdasarkan data di laman Jadesta Kemenparekraf dan data di laman Sisparnas 2024-2026.
Jumlah ini menjadikan Sumatera Barat salah satu daerah dengan jumlah desa wisata terbanyak di Indonesia, seringkali menempati posisi kedua tertinggi secara nasional setelah Jawa Timur, sebutnya.
“Pengunjung yang datang ke desa wisata/kampung wisata di Sumatera Barat akan terpesona dengan keindahan alam dan keramah tamahan masyarakat setempat. Wisatawan dapat merasakan pengalaman dengan segala sensasi yang autentik, sembari menikmati dan belajar tentang budaya lokal dan tradisi yang masih terjaga,” jelas Abdi yang merupakan Tim Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata Sumbar, Selasa 24 Maret 2026.
Semenjak Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif menggelar perhelatan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2021, 2022, 2023, 2024 dan pada tahun 2025 dengan Wonderful Indonesia Award, pengembangan desa wisata menjadi salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka melakukan penguatan pelestarian nilai nilai budaya dan tradisi lokal.
Selain sebagai upaya pelestarian, program pengembangan desa wisata di harapkan menjadi pendorong perkembangan ekonomi bagi masyarakat di kawasan desa wisata/kampung wisata.
Dalam proses perkembangannya, desa wisata dikategorikan kepada empat klasifikasi, yaitu, desa wisata rintisan, desa wisata berkembang, desa wisata maju dan desa wisata mandiri. Klasifikasi rintisan ditujukan kepada desa yang memiliki potensi namun belum dilakukan upaya pengembangan. Kemudian, klasifikasi berkembang diberikan kepada desa wisata yang potensinya telah dikembangkan dan mulai tercipta aktivitas ekonomi.
Selanjutnya, klasifikasi maju diberikan untuk desa wisata yang telah memiliki sarana prasarana memadai serta keberadaanya berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Terakhir, klasifikasi mandiri diberikan kepada desa wisata yang telah mampu berinovasi mengembangkan pariwisatanya dan mampu memasarkan secara digital.
Di Sumatera Barat, kata dia, desa wisata/kampung wisata mayoritas berada pada level desa wisata rintisan.
Abdi mengungkap sejumlah kelebihan yang ada di desa wisata, semisal keindahan alam, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal. Daya tarik ini dikemas dan dipadukan dengan produk wisata yang menarik, seperti produk UMKM, suvenir, kriya, dan fesyen.
Selain itu, desa wisata juga terkenal dengan kuliner lokal beragam. Tak hanya itu, saat ini desa wisata di Sumbar juga banyak yang telah memiliki akomodasi dan dikelola dengan baik termasuk kegiatan seperti atraksi wisata.
“Bagi wisatawan, berkunjung ke desa wisata/kampung wisata tentu tidak hanya sekedar menikmati liburan, namun secara tidak langsung telah turut serta menggerakkan perekonomian desa/kampung menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Abdi mendorong wisatawan terutama di momen lebaran ini untuk memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, karena tentunya pengunjung bebas dari kemacetan.
(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


