KATASUMBAR — Penolakan terhadap rencana trase Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi, khususnya pada ruas Padang Panjang–eks Pasar Amor, kembali muncul dari sejumlah wilayah yang dilintasi rencana pembangunan.
Terbaru, penolakan disampaikan warga Jorong Pasa Rabaa dan Sawah Parik, Nagari Panyalaian, Kabupaten Tanah Datar. Sikap tersebut disampaikan melalui pemasangan spanduk di tepi jalan nasional Padang Panjang–Bukittinggi dengan tulisan, “Menolak Trase Tol Melewati Kampung Kami”.
Sebelumnya, keberatan terhadap trase juga muncul dari wilayah Nagari Batu Palano, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam.
Di Batu Palano, pembahasan trase jalan tol bahkan telah melibatkan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan unsur masyarakat setempat. Sosialisasi dilakukan untuk menjelaskan secara lebih rinci rencana trase, termasuk dampaknya terhadap wilayah nagari.
Ketua KAN Batu Palano, Editiawarman, sebelumnya meminta agar sosialisasi tidak hanya dilakukan pada tingkat kecamatan atau pemerintahan nagari, tetapi sampai ke tingkat jorong dan masyarakat yang terdampak langsung.
Menurut dia, penjelasan secara detail diperlukan karena peta trase yang beredar dapat ditafsirkan berbeda oleh masyarakat. Karena itu, pihak yang menangani trase dan rencana akses keluar-masuk tol diminta menjelaskan secara terbuka dampaknya kepada masyarakat dan anak nagari.
Penolakan dari sejumlah wilayah ini muncul di tengah proses pemerintah melakukan sosialisasi trase baru hingga tingkat jorong. Pemerintah menyebut tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan masyarakat dan ninik mamak memahami rencana pembangunan sebelum proses pembebasan lahan dilakukan.
Ruas Padang Panjang–eks Pasar Amor merupakan bagian dari rencana pengembangan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi. Dalam rencana terbaru, kawasan eks Pasar Amor di Nagari Batu Palano juga direncanakan menjadi salah satu titik akses keluar tol.
Selain akses tol, pemerintah sebelumnya juga menjelaskan adanya rencana pembangunan jalan penghubung atau bypass dari kawasan Pasar Amor menuju Simpang Taluak. Jalan tersebut bukan merupakan bagian dari jalan tol dan dirancang untuk menghubungkan wilayah masyarakat yang terdampak trase.
Dengan munculnya keberatan dari sejumlah wilayah, proses sosialisasi menjadi penting untuk memperjelas trase, lokasi akses tol, serta dampak pembangunan terhadap permukiman, lahan masyarakat dan wilayah adat.
Pemerintah bersama pihak terkait masih melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah, pemerintah nagari, ninik mamak dan masyarakat di wilayah yang masuk dalam rencana trase.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

