KATASUMBAR – Ilmu Hisab dipakai oleh banyak orang baik dari pemerintah hingga banyak aliran Islam lainnya di tanah air.
Metode Hisab ini digunakan untuk menentukan awal bulan penanggalan Hijriyah di Nusantara, salah duanya Ramadan dan Idul Fitri.
Ternyata, ilmu tersebut pertama kali dikembangkan oleh ulama Minang yang sangat berpengaruh di Timur Tengah.
Namanya adalah Syekh Tahir Jalaluddin Al-Falaki Al-Azhari.
Tahir Jalaluddin sendiri berasal dari Surau Kamba, sebuah jorong di Nagari Koto Tuo, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam.
Lahir dengan nama lengkap Muhammad Tahir bin Muhammad bin Jalaluddin. Ia lahir pada tanggal 4 Ramadan 1286 H/8 Desember 1869 M.
Kakeknya, Jalaluddin bergelar Fakih Saghir merupakan anak dari Tuanku Nan Tuo, seorang ulama yang hidup masa Perang Paderi.
Kepintaran Tahir dimulai kala ia berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu setelah ditinggal kedua orang tuanya tahun 1879.
Disana, ia menyusul seorang sepupu yang juga dikenal sebagai ulama besar Minang yakni Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Selama di Makkah, Tahir tinggal bersama Syekh Muhammad Saleh Al-Kurdi, mertua Ahmad Khatib.
Awalnya, Tahir belajar Al-Qur’an dan ilmu tajwid kepada Syekh Abdul Haq. Setelah khatam, ia pun belajar berbagai ilmu kepada banyak guru.
Tercatat, ia belajar ilmu akademik selama kurang lebih 12 tahun di Makkah.
Setelah itu, Tahir Jalaluddin pulang ke Tanah Air ketika berumur 24 tahun.
Di Indonesia, ia tinggal berpindah-pindah selama empat tahun, sebelum kembali ke Timur Tengah.
Tahir tertarik dengan ajakan Syekh Ahmad al-Fathani untuk melanjutkan pendidikan di Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Ia juga termasuk di antara beberapa pemuda Nusantara yang dikirim oleh Syekh Ahmad al-Fathani untuk belajar Al-Azhar.
Disanalah ia kemudian mengembangkan metode perhitungan awal bulan Hijriyah tersebut hingga kemudian disebut sebagai pakar Astronomi dan Ilmu Falak.
Tahir dikenal atas kepeloporannya memperkenalkan pemakaian hisab dalam penentuan awal bulan pada penanggalan Hijriyah di Nusantara.
Pemikiran Tahir
Pemikiran Tahir Jalaluddin terinspirasi dari ide-ide modernis para reformis Timur Tengah yakni Jamal ad-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Raschid Rida.
Salah satu pemikirannya yang cukup kontroversial adalah dukungannya terhadap hisab dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan.
Pandangannya mendobrak pandangan populer kala itu adalah menggunakan rukyat yang merupakan pendapat para ulama terdahulu.
Dalam menguatkan argumentasinya, Tahir banyak merujuk pada perhitungan dan metode-metode yang dipakai oleh bangsa Eropa.
Di Minangkabau, kampung halamannya, pemikiran Tahir mendapat perlawanan dari sejumlah ulama setempat.
Hal itu lantaran dianggap tidak sesuai dengan tradisi karena memulaikan puasa dengan memakai ilmu hisab dan ilmu falak, bukan rukyah seperti ulama terdahulu.
Namun kini pemikiran Tahir dipakai oleh pemerintah Indonesia untuk menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri.(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) Β π
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

