KATASUMBAR– Jembatan Bukik Batabuah Agam diperlebar menjadi 8 meter, yang mencakup lebar badan jalan enam meter dan bahu jalan di kiri-kanan masing-masing satu meter. Tak hanya itu, alur sungai juga diperlebar menjadi 20 meter dan dasar sungainya diperdalam sekitar dua meter ke bawah.
“Dengan begitu, bentang jarak dari dasar sungai ke lantai jembatan kini menjadi 6 meter. Luapan air yang dulu berjarak sekitar 2 meter dari lantai rumah warga di sekitar sungai, kini ambang amannya menjadi sekitar lima meter,” ujar Direktur CV Midya Karya, Delfa Oktra, Selasa 13 Oktober 2026.
Menurut Delfa Oktra, hingga pertengahan Oktober 2026, pekerjaan fisik pembangunan Jembatan Bukik Batabuah yang sudah berlangsung sejak 5 Agustus 2026, telah mencapai kurang lebih 55 persen dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada 13 Desember 2026.
Aktivitas pengerjaan di lapangan melibatkan 12 tenaga kerja dan dua unit alat berat ekskavator (Caterpillar dan Komatsu) yang bekerja membelah dan mengeruk alur sungai.
Jembatan Bukik Batabuah Agam ini menjadi sarana vital yang menghubungkan langsung lima nagari di Kabupaten Agam, yakni Nagari Bukik Batabuah, Lasi, Canduang, Sungai Pua, dan Kubang Putiah.
Jalur ini juga berfungsi sebagai perlintasan alternatif utama yang menghubungkan Provinsi Sumatera Barat dan Riau (jalur Padang–Pekanbaru).
Keberadaannya sangat membantu dalam mengurai kemacetan saat terjadi kepadatan lalu lintas di rute utama Tanjung Alam maupun Baso.
Sementara itu, Wali Nagari Bukik Batabuah Agam, Firdaus menjelaskan pelebaran tersebut dirancang khusus, sesuai konsep mitigasi bencana.
“Jika kita ingat kembali, saat awal bencana dulu baru ada jembatan darurat kayu, lalu dipasang Jembatan Bailey. Kini di tahun 2026, kita bangun jembatan beton permanen dengan total lebar delapan meter dan ruang bebas vertikal enam meter dari dasar sungai,” tutur Firdaus pada Selasa 13 Oktober 2026.
Tak hanya jembatan, menurut Firdaus, sungai di Bukik Batabuah ini juga diperlebar, dari sebelumnya hanya 4 meter menjadi 10 meter.
Firdaus menjelaskan, penyebab utama jembatan hancur ketika terjadi galodo tahun 2024 yang lalu, karena alur sungai di Bukik Batabuah Agam tergolong sempit dan dangkal, serta adanya tiang penyanggah jembatan.
Untuk memperkokoh jembatan, konstruksinya dibuat tanpa pilar di tengah sungai agar material banjir tidak tersangkut.
“Situasi jalur mitigasi bencana di Bukik Batabuah ini sangat krusial karena menyangkut keselamatan ratusan jiwa yang bermukim dekat dari kawah aktif Gunung Marapi,” paparnya.
Pembangunan kembali Jembatan Bukik Batabuah didanai melalui skema Dana Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan TKD Kabupaten Agam dengan nilai kontrak Rp 3,5 miliar (Rp 3.537.044.588).
Dana TKD Bencana ini merupakan alokasi porsi daerah yang dikembalikan oleh Pemerintah Pusat ke Pemerintah Kabupaten Agam guna mempercepat penanganan dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana.
Pekerjaan fisik berada di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Agam dengan nomor kontrak 2.2.34/JBT.TKD-P.III/DPUTR-AG/VII.2026 untuk Paket III (Tambahan TKD) JBT.
Jembatan Bukik Batabuah (J.106). Pelaksanaan proyek dipercayakan kepada kontraktor pelaksana CV Midya Karya dengan pengawasan teknis oleh konsultan pengawas CV Bina Citra Consultant.
Firdaus sebagai Walinagari berharap pelebaran jalan sesuai dengan mitigasi bencana. “Sehingga ini bisa bermanfaat untuk jangka panjang,” tutupnya.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

