KATASUMBAR – Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat, Luhur Budianda akhirnya buka suara soal kritikan penyelenggaraan grand final Uda-Uni.

Penyelenggaraan malam final pemilihan duta wisata yang berlangsung di Muara Labuh, Solok Selatan ini disebut jadi yang terburuk sepanjang sejarah.

Tudingan demikian disampaikan oleh tiga orang juri dalam sebuah surat yang diterima Katasumbar, Selasa (7/11) malam WIB.

Menanggapi kritikan tersebut, Budi mengatakan, pihaknya menerima beragam pendapat yang muncul, namun ia menyayangkan jika kritikan itu dipublikasi ke media sosial.

“Kritik silahkan sampaikan langsung ke saya, jangan ke media sosial,” katanya pada Katasumbar, Rabu (8/11).

“Sebab hal demikian memberi preseden buruk pada wisata Sumbar, apalagi yang memberi kritik itu juga bagian dari Uda-Uni Sumbar,” imbuhnya.

Soal penyelenggaraan acara, Budi menjelaskan, pihaknya sudah mempersiapkan acara grand final sebaik mungkin.

Bahkan, kata dia, Bupati Solok Selatan menilai gelaran tersebut sangat megah, dan sangat berarti bagi Solok Selatan.

“Namun pada malam harinya, tiba-tiba hujan deras. Perlengkapan yang akan digunakan untuk menopang kegiatan banyak yang rusak.”

“Padahal siangnya, saat persiapan dan gladi resik, semuanya baik-baik saja. Cuaca sangat cerag,” jelas dia.

Dengan kondisi begitu, Budi pun menunda pelaksanaan acara, hingga pukul 9 malam saat hujan sudah reda, dirinya pun meminta pendapat pada Bupati Solok Selatan dan perwakilan Gubernur.

“Kami berdiskusi soal kelanjutan acara. Apakah akan dihentikan lalu dilanjutkan besok pagi, atau tetap dilanjutkan.”

“Dari diskusi itu disepakati bahwa acara tetap dilanjutkan malam itu juga,” ungkapnya.

Mendapati keputusan demikian, Budi pun memutuskan untuk melanjutkan kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (4/11) malam WIB itu, dengan perlengkapan seadanya.

“Karena banyak alat yang rusak, terpaksa kami lanjutkan dengan perlengkapan seadanya, mana yang bisa dipakai saja.”

“Tapi kendati begitu, acara tetap meriah, buktinya hingga pukul 2 malam, masyarakat masih meramaikan lokasi acara,” bebernya.

Sehingga menurut Budi, semua masalah yang menjadi bahan kritikan tersebut bukanlah kesalahan manusia, namun faktor alam.

“Tidak ada human error, itu semua murni force major. Jadi kritik boleh saja, kami terbuka dengan itu. Tapi tolong pahami juga kondisinya seperti apa,” tegasnya.

Hospitality Bermasalah

Selain menanggapi persoalan persiapan, Budi juga memberikan penjelasan soal kritikan pelayanan penginapan yang kurang memadai.

Menurut dia, pihak yang memberi kritik harus paham dengan kondisi Solok Selatan.

“Jangan samakan dengan daerah lain, yang mungkin punya fasilitas hotel mewah,” sebut Uda Sumbar tahun 1992 itu.

“Soal hotel, memang itu adanya. Kan tidak mungkin, dalam dua hari saya bangun hotel bintang 5 untuk mereka,” imbuhnya.

Budi sendiri mengakui, fasilitas memang masih kurang memadai. Namun ia menyebut, justru dengan gelaran Uda-Uni Sumbar ini bisa memacu pihak terkait untuk memperbaiki semua kekurangan itu.

“Namanya juga daerah jauh. Fasilitasnya memang masih kurang baik.”

“Tapi dengan gelaran ini kan memicu masyarakat atau bahkan pemerintahnya untuk lebih baik lagi,” tukasnya.

Pemilihan Solok Selatan sebagai tuan rumah, sebut Budi, adalah sebagai bentuk upaya memasyarakatkan gelaran itu.

Supaya masyarakat bisa merasakan dampak ekonomi, seperti penyewaan penginapan, dan lainnya.

“Murni karena itu, supaya masyarakat menikmati langsung dampaknya, karena adanya penggunaan fasilitas wisata,” pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, kritikan soal gelaran grand final Uda-Uni Sumbar ini jadi pembicaraan, lantaran minimnya persiapan dan kurang memadainya fasilitas.

Kritikan itu heboh di media sosial, dan mendapatkan tanggapan beragam dari publik.(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.