KATASUMBAR – Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Prof. Mas Mera, menyebut banjir yang melanda Kota Padang pada 3 Agustus 2026 dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam. Berdasarkan hasil pengamatan hidrologi dan sedimentologi, banjir kali ini juga membawa dampak positif berupa berkurangnya endapan sedimen di Batang Kuranji melalui proses pembilasan alami.

Menurut Prof. Mas Mera, data dari Stasiun Penakar Hujan Arau menunjukkan hujan mulai turun sejak malam 2 Agustus 2026. Saat itu tercatat curah hujan sekitar 20 milimeter selama dua jam, kemudian berlanjut dengan hujan ringan hingga keesokan harinya.

“Puncak hujan terjadi pada 3 Agustus 2026. Selama sekitar 10 jam, mulai pukul 10.01 hingga 20.00 WIB, tercatat akumulasi curah hujan mencapai 384,5 milimeter atau rata-rata sekitar 38,45 milimeter per jam. Angka ini sudah masuk kategori hujan ekstrem,” katanya.

Curah hujan yang sangat tinggi tersebut, lanjutnya, menyebabkan debit Batang Kuranji meningkat secara cepat sehingga meluap dan menggenangi sejumlah kawasan di Kota Padang, terutama permukiman di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

Prof. Mas Mera

Prof. Mas Mera menjelaskan, warna air sungai yang tampak cokelat pekat menunjukkan tingginya material sedimen hasil erosi permukaan yang terbawa aliran sungai. Namun, kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai banjir lumpur karena karakteristik aliran masih didominasi air dengan sedimen tersuspensi.

“Hujan dengan intensitas tinggi meningkatkan limpasan permukaan di daerah hulu sehingga tanah tidak lagi mampu menyerap air secara optimal. Material hasil erosi kemudian terbawa menuju sungai,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pemantauan lapangan hingga kawasan Lapai, Jembatan Air Tawar, dan Muara Batang Kuranji pada 4 Agustus, ia menemukan sebagian besar endapan sedimen yang terbentuk akibat banjir besar November 2025 telah berkurang secara signifikan.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh bertepatan antara puncak debit banjir dengan fase surut air laut. Situasi itu menciptakan kemiringan aliran yang cukup besar menuju muara sehingga mampu menggelontorkan sedimen ke laut melalui mekanisme pembilasan alami (self-flushing).

“Secara umum volume sedimen di badan sungai jauh berkurang dibandingkan setelah banjir besar tahun lalu. Meski begitu, masih ditemukan endapan baru di titik-titik tertentu seperti tikungan sungai dan di sekitar abutment jembatan karena kecepatan aliran di lokasi tersebut lebih rendah,” jelasnya.

Meski kondisi badan sungai dinilai membaik, Prof. Mas Mera menilai persoalan utama justru berada di Muara Batang Kuranji. Menurutnya, kawasan muara tidak hanya menerima kiriman sedimen dari hulu, tetapi juga pasir yang dibawa gelombang dan arus sepanjang pantai dari Samudra Hindia sehingga memicu pendangkalan secara berulang.

Ia menjelaskan, dasar muara didominasi lapisan batuan keras sehingga pengerukan biasa dinilai kurang efektif. Untuk meningkatkan kapasitas aliran secara permanen, diperlukan kajian teknis yang komprehensif, termasuk kemungkinan pembongkaran ambang batuan dasar menggunakan metode khusus apabila dinilai layak secara teknis dan lingkungan.

Selain itu, Prof. Mas Mera juga mengusulkan pembangunan struktur jetty di mulut muara. Menurutnya, bangunan tersebut dapat mengurangi masuknya sedimen pantai ke badan sungai sekaligus mengarahkan aliran banjir agar proses pembilasan menuju laut berlangsung lebih efektif.

Sebagai langkah jangka pendek, ia menilai pengerukan besar-besaran di badan utama Batang Kuranji belum menjadi prioritas karena proses pembilasan alami telah mengurangi volume sedimen secara signifikan. Upaya yang lebih mendesak adalah membersihkan endapan pada titik-titik kritis seperti di sekitar pilar jembatan dan tikungan sungai untuk menjaga kapasitas aliran.

Prof. Mas Mera juga mendorong pemerintah menyusun masterplan penataan Muara Batang Kuranji melalui kajian rekayasa pantai yang komprehensif. Di sisi lain, sistem peringatan dini berbasis data curah hujan real time perlu terus diperkuat mengingat kawasan permukiman di sepanjang bantaran Batang Kuranji masih memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir saat terjadi hujan ekstrem.

sumber: unand.ac.id

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.