KATASUMBAR – Ulama Minang, Buya Syafii Maarif menutup usia pada Jumat (27/5). Ia wafat pada umur 86 tahun.
Ulama besar organisasi Islam Muhammadiyah itu pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah, Gamping, Kabupaten Sleman.
Berita ini lantas mengejutkan banyak orang. Banyak tokoh-tokoh bangsa yang menekurkan kepala.
Melangitkan doa dan memanjatkan banyak harapan agar sosok mantan Ketua Muhammadiyah itu dapat tempat yang layak di sisi Tuhan.
Sebelum wafat, Buya Syafii Maarif sempat dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Gamping sejak Sabtu (14/5).
Ia dievakuasi ke rumah sakit lantaran akibat mengalami sesak napas.
Namun kondisi ulama kelahiran Sumpur Kudus itu sempat membaik dan tidak begitu sesak napas.
Bahkan, dokter juga sudah memperbolehkan Buya Syafii Maarif pulang ke rumah.
Namun nasib berkata lain, ia meninggal dunia pada pukul 10:15 WIB.
Ulama Kontroversi
Meninggalkan Sumpur Kudus sejak 1953, Syafii Maarif tumbuh sebagai orang yang gemar belajar.
Bersama saudaranya Azra’i, ia pun melanjutkan pendidikan di Madrasah Mualimin, Yogyakarta.
Tidak hanya belajar pendidikan formal, ia pun juga belajar berorganisasi kepanduan bersama Hizbul Wathan.
Modal belajar itu lah yang membawa Syafii muda bisa bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang kemudian hidup bersama Muhammadiyah.
Namun, semasa hidup, kiprah Syafii tidak selamanya mulus. Ia sempat dikenal sebagai ulama kontroversi.
Ia kontroversi lantaran beberapa pernyataannya sangat bertentangan dengan respon publik.
Pertama adalah perihal Islam Liberal. Julukan itu disematkan oleh Cendekiawan muslim Adian Husaini.
Ia mengkategorikan Ahmad Syafii Maarif sebagai tokoh Muhammadiyah pendukung gagasan Islam Liberal (neomodernisme) yang diusung oleh Fazlur Rahman.
Kala itu Adian mencatat bahwa Syafii memuji setinggi-tingginya Fazlur Rahman yang merupakan dosennya.
Ia juga mencatat penyataan Syafii pada 2001 yang menolak kembalinya Piagam Jakarta ke dalam konstitusi.
Zuly Qadir mencatat Syafii dan Hasyim Muzadi menolak pemberlakuan syariat Islam secara formal di Indonesia.
Selain itu, Buya Syafii ditulis oleh Budi Handrianto.
Ia ditulis sebagai kelompok senior dalam buku berjudul 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia: Pengusung Ide Sekulerisasi, Pluralisme, dan Liberalisasi Agama.
Budi Munawar Rachman mengelompokkan Syafii termasuk ke dalam golongan neo-modernis Islam.
Tak hanya Syafii, nama Nurcholish Madjid dan tokoh-tokoh lainya juga ada dalam tulisan itu.
Muhamad Afif Bahaf juga menuliskan bahwa gerakan Islam Liberal tumbuh subur di Muhammadiyah semasa dipimpin Syafii.
Hal ini ditandai dengan berdirinya tiga komunitas intelektual.
Adapun tiga komunitas itu yakni Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Maarif Institute, dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).
Bela Ahok
Setelah Islam Liberal, pada November 2016, ia membela Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Ia membela dengan mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama.
Pandangannya ini melawan pendapat mayoritas tokoh Islam lainnya termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Dimana kala itu MUI telah memfatwakan bahwa Ahok melakukan penistaan agama islam dan para ulama.(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


