KATASUMBAR – Tanggal 15 Januari adalah hari peringatan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah bagi Minangkabau.
Peristiwa itu terjadi pada 15 Januari 1948 silam, dimana puluhan pejuang Minangkabau tewas dalam tragedi tersebut.
Adapun peristiwa itu dikenang dengan nama Persitiwa Situjuah. Dikutip dari laman resmi Pemkab Limapuluh Kota, Peristiwa Situjuah adalah suatu peristiwa penyerangan oleh pasukan penjajah Belanda.
Serangan tersebut gencar dilakukan terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Akibat serangan itu, eberapa orang pimpinan pejuang dan puluhan orang anggota pasukan lainnya tewas.
PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) adalah suatu pemerintahan darurat yang dibentuk pada tanggal 22 Desember 1948.
Saat itu, PDRI dibentuk oleh beberapa orang pimpinan pejuang kemerdekaan Indonesia dan dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.
Pemerintahan itu dibentuk karena ditangkap dan diasingkan-nya beberapa orang pemimpin Republik Indonesia yaitu Presiden Soekarno.
Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Luar Negeri Agus Salim serta Sjahrir dan lainnya juga ditangkap oleh pihak Belanda.
Penangkapan tersebut terjadi ketika terjadinya Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.
Ibu kota PDRI adalah Bukittinggi, namun perjuangannya lebih banyak terjadi di desa-desa dan hutan-hutan Sumatra Tengah.
Pemerintahan Darurat
Sehingga disebut “Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia” (PDRI) oleh pihak Belanda. Sedangkan lokasinya disebut “Somewhere in the Jungle”.
Dalam salah satu mata rantai perjuangan PDRI itulah terjadi suatu peristiwa pada tanggal 15 Januari 1949.
Dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) tewas seketika diberondong tembakan oleh pihak penjajah Belanda.
Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat.
Malam sebelumnya pada 14 Januari 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam menghadapi agresi.
Agresi itu dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II.
Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatra Tengah Sutan Mohammad Rasjid dan dipimpin oleh Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah.
Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Lima Puluh Kota), Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta 69 orang pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK).
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


