KATASUMBAR  — Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat hanya mencapai 3,39 persen pada 2025, salah satu yang terendah di Sumatera. Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Dr. Abdul Aziz, menilai angka ini menunjukkan melemahnya fondasi ekonomi daerah.

Aziz mengatakan hampir seluruh komponen pembentuk PDB—konsumsi, investasi, hingga perdagangan—tidak tumbuh optimal. “Sumbar kalah gesit dibanding provinsi lain yang lebih cepat beradaptasi,” ujarnya.

Ia menyoroti lambatnya proyek strategis seperti jalan tol Padang–Pekanbaru, yang membuat arus logistik tersendat dan biaya distribusi tetap tinggi. Pelabuhan Teluk Bayur juga dinilai belum berkembang maksimal sehingga ekspor komoditas unggulan sulit meningkat.

Iklim investasi pun belum membaik. Sengketa tanah ulayat, perizinan berbelit, dan rendahnya kepastian hukum membuat investor memilih pindah ke provinsi lain. “Kepastian lahan dan layanan cepat itu krusial. Ini pekerjaan rumah besar,” kata Aziz.

Kemunduran kinerja industri semen, khususnya Semen Padang, ikut memperburuk kondisi. Dampaknya merembet ke sektor transportasi, konstruksi, hingga UMKM yang bergantung pada rantai pasok industri semen.

Di sisi lain, Sumbar juga tertinggal dalam pengembangan ekonomi digital dan industri kreatif. Padahal provinsi ini memiliki generasi muda berpendidikan dan potensi besar untuk mengembangkan ekosistem inovasi.

Aziz menilai kondisi ini bisa menjadi momentum perbaikan. Ia menyarankan tiga langkah prioritas: reformasi perizinan dan kepastian lahan, percepatan pembangunan konektivitas, serta penguatan sektor industri baru berbasis inovasi.

“Sumbar sebenarnya punya modal kuat. Tinggal bagaimana kebijakan diarahkan ke strategi yang progresif dan adaptif,” tutupnya.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.