KATASUMBAR — Sejak dulu hingga sekarang, situs-situs megalit di Kabupaten Lima Puluh Kota bagai tak henti memperagakan tarian arkeologis yang penuh misteri. Para peneliti datang silih berganti. Menceburkan setumpuk rasa penasaran di negeri berpanorama indah yang dikelilingi bukit, lembah dan gunung ini.
Dominik Bonatz, seorang arkeolog asal Jerman adalah salah satu peneliti yang ulet terkait situs-situs megalit. Dalam bukunya berjudul “Megalithen Im Indonesischen Archipel” terbitan Berlin University (2021), terlihat jelas ia berkunjung ke Lima Puluh Kota yang merupakan tempat penyebaran benda-benda peninggalan megalit seperti menhir, batu dakon, balai-balai batu dan lain sebagainya.
Dalam buku itu, Dominik Bonatz melampirkan foto-foto mengagumkan. Terutama terkait menhir yang memiliki bentuk dan motif yang beragam di Maek, sebuah nagari di Kecamatan Bukit Barisan yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di berbagai forum diskusi, bahkan menarik perhatian BRIN dan UNESCO.
Seakan tersengat oleh hiruk pikuk perbincangan itu, maka pada Rabu (3/7/2024), saya menyambangi Maek berdua rekan penulis, Boni Chandra dengan sejumput pertanyaan yang berpusar di kepala. Kedatangan saya untuk pertama kali ke Maek serta merta tidak pergi begitu saja tanpa informasi yang jelas bagai menyusuri peta buta. Ada beberapa teman yang berdomisili di sekitaran Lima Puluh Kota yang saya tanyai. Salah satunya Iyut Fitra yang baru saja balik dari kegiatan residensi di Maek. Dalam percakapan saya dengan Iyut Fitra saat bertemu di rumahnya, maka saya bisa simpulkan bahwa jalan ke Maek cukup seru dan menantang.
Seperti memasuki negeri asing penuh kabut, saya menyambangi Maek yang bagai dikepung hamparan batu-batu tua yang meringkuk di kolong zaman. Selain memiliki rentetan peradaban yang sublim, maka Maek memiliki bentangan alam yang tak ubahnya seperti negeri dongeng. Dengan memiliki luas yang hampir setengah luas kecamatan Bukit Barisan, Maek adalah sebuah lembah yang dianugerahi tanah subur yang dikelilingi perbukitan, dan dipapah Batang Maek yang hulunya merupakan salah satu sumber air yang mengisi waduk PLTA Koto Panjang.
Dibalut tarian petang yang ditingkahi kicau burung-burung di Jorong Sopan Tanah, saya disambut Pondri Noza Dt. Sutan Nan Panjang selaku sekretaris KAN Nagari Maek di rumahnya. Keletihan saya melewati penurunan terjal tapi eksotik dengan lanskap ladang-ladang warga, serta merta diburu jabaran panjang tentang peradaban Maek. Keberadaan hamparan batu-batu tua hingga Maek dijuluki Negeri Seribu Menhir, tentu saja seketika menjadi perbincangan hangat yang diselingi seruput segelas kopi.
“Dulu jumlah menhir banyak di Maek, ribuan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak yang hilang akibat aktivitas manusia. Sebab ketidaktahuan masyarakat, maka menhir-menhir ditimbun untuk kepentingan pembangunan,” ujar Pondri Noza yang baru balik manggampo gambir di ladangnya petang itu.
Menurut Pondri Noza, keberadaan menhir-menhir di Maek berkaitan erat dengan tiga periode peradaban, yaitu peradaban megalitikum, peradaban candi, dan peradaban Islam. Rentetan sejarahnya begitu panjang. Namun yang jelas, keberadaan menhir-menhir ada fungsinya untuk batu nisan makam, tanda lahir atau peringatan, dan juga untuk pemujaan.
Tradisi Masa Lalu
Terlepas dari segala teori dan segala penamaan dalam timbunan sejarah, saya mendapat beberapa catatan penting dari Pondri Noza terkait tradisi masa lalu di Maek. Ia mengatakan bahwa di Maek dulu masih kental tradisi berkaul atau meminta doa di tempat-tempat yang dianggap keramat. Tradisi ini tak tahu persis tahun berapa dan ia mendapat ceritanya turun-temurun. Bahwa di Bukit Tembok atau Puncak Keramat, masyarakat dulu kerap mendoa yang kegiatannya seperti maarak boniah, bawa buah-buahan, dan makan nasi kunyit bersama-sama dengan harapan pertanian dan perkebunan mereka tumbuh subur. “Sekarang tempatnya masih ada dan ada juga menhir di sana,” tegas Pondri Noza yang juga sebagai ketua Badan Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (BPSPAMS) di Jorong Sopan Tanah.
Selain tentang tradisi yang melibatkan menhir, saya juga mendengar pengakuan Pondri Noza yang pernah melihat kebiasaan masyarakat yang kala itu masih terpengaruh tradisi lama. Tradisi tolak bala yang digelar setiap lima tahun sekali, adalah tradisi yang bertujuan agar nagari jauh dari musibah, dan pertanian jauh dari hama serta mendapat panen yang melimpah.
“Tradisi tolak bala saya saksikan saat usia sekitar empat tahun. Kala itu, saya digendong ibu untuk menyaksikan di balai-balai batu. Tradisi ini memotong seekor sapi hitam, dan disertai acara makan-makan. Tapi sejak awal tahun 1980-an, tradisi ini dihentikan yang dilatarbelakangi oleh beberapa partai yang menolak kala itu,” jelasnya.
Balai-balai batu di Situs Megalit Koto Gadang yang saya kunjungi selepas Magrib, adalah lokasi yang dimaksud Pondri Noza. Walaupun dalam kondisi gelap, saya masih bisa melihat balai-balai batu berukuran tinggi 80 cm serta luas 6 x 6 meter. Di sana dulunya tempat Niniak Nan Barampek bermusyawarah. Adapun nama niniak yang konon berasal dari Pariangan itu adalah Dt. Siri, Dt. Majoindo, Dt. Rajo Dibalai, dan Dt. Bandaro yang merupakan tonggak pertama keberlangsungan adat di Maek. Pondri Noza juga menambahkan, di balai-balai batu baru saja diadakan baralek gadang dalam rangka malewakan gala 26 orang ninik mamak pada akhir tahun 2023 lalu.
“Di Balai-balai batu ini baru saja Maek mangadakan baralek gadang. Turut hadir juga Raja Negeri Sembilan Malaysia karena merasa leluhurnya berasal di Maek ini,” tutupnya.
Sementara itu, terkait tradisi masa lalu, hal senada juga disampaikan Zelpenedri selaku Koordinator Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat Wilayah Tiga saat ditemui di rumahnya. Ia mengatakan, bahwa memang peradaban megalit di Maek erat kaitannya dengan tradisi kepercayaan tertentu. “Tradisi-tradisi dulu memang sekarang tak dipakai lagi. Kalaupun ada bakar kemeyan, namun lebih kepada pembuka kato dalam acara-acara adat,” jelasnya.
Memahat Ulang Menhir-menhir

Sebagai seorang penulis dan peminat sejarah yang pertama kali datang ke Maek, saya sungguh merasakan ketenangan yang dibalut daya magis menhir yang beberapa kali saya abadikan melalui jepretan kamera telepon genggam. Dan itu saya rasakan pada malam hari, dan hanya diterangi sorot lampu sepeda motor Pondri Noza yang berbesar hati menemani saya menuju Situs Megalit Koto Gadang.
Ketika melihat hamparan menhir dan balai-balai batu, serta merta pertanyaan menyeruak dari benak saya. Bagaimana awalnya menhir itu dibuat hingga dominan menghadap ke arah Gunung Sago? Dan bagaimana caranya peneliti-peneliti yang datang mendapatkan data terkait peradaban megalit yang mengagumkan di tanah Maek?
Secara garis besar, dulunya situs megalit di Maek kurang diperhatikan sehingga banyak digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan. Barulah pada awal tahun 1980-an, situs megalit ini dilindungi dan mendapat perhatian dari pemerintah dan tak boleh diganggu lagi. Dalam buku “Peninggalan Megalitik di Kabupaten Lima Puluh Koto Propinsi Sumatera Barat” yang terbit tahun 1985, maka terlihat jelas upaya pemugaran dam pemeliharaan tersebut. Terutama terkait menhir yang jumlahnya paling banyak di temukan di Maek.
Bicara tentang data, jumlah menhir di Maek diperkirakan mencapai ribuan. Namun pada hari ini, BPCB Sumbar mencatat bahwa di Maek sedikitnya terdapat 13 titik situs megalit. Terdiri dari 374 menhir dan satu dakon di situs yang berada pada ketinggian 350 meter dari permukaan laut ini. Tinggi menhir beragam, mulai dari seukuran diameter kepala anak-anak hingga sekitar 3 meter. Ada pula satu menhir setinggi 4 meter tetapi sudah rebah.
Barangkali penelitian di Maek memiliki tinjauan dari berbagai aspek dan sudut pandang. Zelpenedri mengatakan, bahwa peninggalan purba di Maek banyak yang masih misteri dan belum terpecahkan. “Dulu ada arkeolog Jerman yang datang ke Maek. Dan ia beserta rombongan menginap di rumah ini.” terang Zelpenedri yang duduk didampingi sang istri di ruang tamu.
Apa yang dimaksud Zelpenedri tentu saja Dominik Bonatz yang bukunya tengah saya baca saat itu. Meskipun disajikan dalam bahasa Jerman, tapi saya menikmati foto-foto dan alur kisah perjalanan Dominik bersama tim maupun dua anaknya itu. Dominik mamasuki Maek tahun 2014 dan singgah selama lebih kurang 40 hari. Inti dari penelitian Dominik yaitu, bahwa ia belum dapat menyimpulkan kelompok masyarakat yang hidup di Maek pada masa megalitikum. Dan ini diamini oleh Arbi Tanjung, seorang peminat budaya dan sejarah. Kala Dominik meneliti dan melakukan ekskavasi terhadap menhir-menhir di Maek, Arbi juga ikut mendampingi dan bertindak sebagai negosiator di tengah masyarakat.
“Kegiatannya kala itu mendata, memotret serta melakukan ekskavasi. Ada beberapa temuan kala itu, seperti bejana, piring, dan uang koin yang diperkirakan beredar pada abad 12 hingga abad 15 M,” terang Arbi yang mengaku saat ini masih melakukan penelitan terkait peradaban Maek.
Penelitan tentang peradaban Maek adalah penelitian yang sangat menarik di lintas zaman. Dan pada hari-hari depan, barangkali gelombang penelitian akan semakin banyak dengan berbagai teori serta dukungan IPTEK masa kini. Saya menamakannya dengan sebutan ‘memahat ulang menhir-menhir di Maek’. Dengan begitu, segala upaya untuk memecahkan misteri peradaban Maek, tentu adalah langkah-langkah elegan yang mengandung nilai-nilai adiluhung yang patut diperbincangkan.
Seperti yang saya sampaikan pada awal tulisan, bahwa Maek hari ini dilirik oleh BRIN dan UNESCO. Supardi, Ketua DPRD Sumatera Barat, adalah salah satu tokoh yang aktif terlibat dalam upaya memecahkan misteri peradaban Maek. Di berbagai forum diskusi, Supardi dengan penuh optimis peradaban Maek bisa dikelola dengan baik, dan berpotensi menjadi wisata dunia.
Menurut Supardi sebagaimana dilansir dari Antara (7/7/2024), bahwa BRIN dan UNESCO sangat tertarik menggali hal-hal yang ada di Maek termasuk menhir. Dan upaya yang dilakukan BRIN yaitu akan melakukan radiocarbon dating untuk mengetahui usia gugusan menhir yang terletak di Maek. Radiocarbon dating merupakan metode penelitian yang memperkirakan usia objektif bahan berbasis karbon yang berasal dari organisme hidup. Metode tersebut dinilai cocok dalam menentukan usia benda purbakala yang diperkirakan sudah berusia ribuan tahun.
Apa yang akan dilakukan BRIN mendapat dukungan dari akademisi Universitas Leiden, Surya Suryadi. Bahwa apa yang akan dilakukan BRIN, akan menjawab berbagai pertanyaan tentang suku Minangkabau, termasuk asal-usulnya. Hal ini sangat masuk akal, mengingat menhir-menhir di Maek memiliki banyak bentuk dan motif pola hias yang identik dengan pola hias tradisional Minangkabau seperti pucuak rabuang, kaluak paku, kacang balimbiang, dan saik galamai.
Keinginan Masyarakat dan Festival Maek

Suasana di Maek petang itu sungguh terasa syahdu. Dari kejauhan, saya melihat Bukit Posuak dengan lubang besar menganga bagai manyajikan jalan menembus dunia lain yang belum terjamah oleh mata. Pemandangan itu sekonyong-konyong membuat saya mencoba meresapi tarian napas peradaban Maek yang tertua, sebagaimana yang dikatakan Supardi di berbagai forum diskusi.
Penelitian demi penelitian di Maek, tentu saja berjalin-kelindan dengan keinginan masyarakat yang ingin melihat bagaimanakah kontruksi dari memahat ulang menhir-menhir yang meringkuk di kolong zaman. Sebab bila bicara Maek, maka akan bicara berbagai potensi seperti bidang pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban.
Diskusi kelompok terumpun yang diadakan pada tanggal 20-21 Juli 2023, adalah kunci penting yang menyatukan berbagai pendapat masyarakat Maek. Diskusi yang difasilitasi Dinas Kebudayaan Propinsi Sumatera Barat itu memiliki benang merah, bahwa Maek butuh membangun ekosistem yang padu yang mengupayakan Maek pada hari depan tampil sebagai geokultur yang dilirik masyarakat dunia, dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Ditambah pula, transkip dari diskusi tersebut dirangkum dalam buku “Misteri Mahek, Menjernihkan Hulu Meneroka Peradaban” yang menunjukkan rasa optimisme menanti perubahan serta berbagai penemuan mutakhir di tanah Maek.
Setelah situs bersejarah Maek dinobatkan sebagai Juara III pada Kategori Situs Bersejarah API Award ke-8 /2023 yang dilaksanakan di Ambon, maka pusaran iklim kebudayaan di Maek semakin tak terbendung. Festival Maek pun ditaja pada tangal 17-20 Juli mendatang yang merupakan pengejawantahan dari Focus Group Discussion (FGD) dengan bundo kanduang, niniak mamak, pemuda, dan perangkat nagari pada akhir 2023 yang lalu.
Festival Maek ini tentu saja bertujuan menyibak peradaban Maek dan akan menumbuhkan sinergi berbagai pihak untuk mengembangkan segala potensi budaya di Maek. Berbagai acara pun disusun dan akan melibatkan masyarakat serta berbagai pihak lainnya. Termasuk koreografer Jerman Bianca Sere Pulungan, koreografer Jefriandi Usman, dan musisi Sendi Orysal.
Barangkali harapan-harapan yang menyeruak dari segenap imajinasi dan kontemplasi masyarakat Maek, akan serta merta menemui jalan terang. Dan ini tak luput dari perbincangan hangat saya dengan beberapa tokoh yang saya temui hari itu.
Jam di tangan saya menunjukkan pukul sembilan malam. Maka tibalah saatnya saya bersama Boni Chandra bersiap meninggalkan Maek yang bagai membukakan tangan peradaban yang halus, dan mendekap rasa penasaran saya yang berjalin pilin sejak awal perjalanan. Jalan pulang yang saya tempuh, hanyalah deret perbukitan yang didominasi jalur mendaki. Lantas, saya pun membayangkan betapa banyak inspirasi yang didapat orang-orang yang datang silih berganti, Termasuk apa yang didapat Iyut Fitra saat melakukan residensi di Maek untuk membuat puluhan puisi.
Saya pikir, Maek begitu lihai menyatukan berbagai disiplin ilmu di era digital ini. Ketika kelak orang datang berbondong-bondong, maka sekonyong-konyong hanyalah menyodorkan wajah yang terkesima melihat peradaban Maek yang berdandan dengan segenap nilai luhur kebudayaan di cermin zaman.
Ketika datang ke Maek, maka akan banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi dari hasil revitalisasi maupun pembangunan tonggak baru. Orang-orang akan menikmati air yang sejuk saat mandi. Seperti yang saya rasakan di petang itu di Jorong Sopan Tanah. Bagaimana air jernih begitu mengalir deras, dari pipa-pipa yang tersambung dengan kaki Bukit Posuak yang begitu melegenda di bawah langit Lima Puluh Kota.
Budi Saputra. Ia diundang dalam UWRF 2012. Seorang guru dan bergiat dalam komunitas menulis Mazhab Panam. Sekarang ia bermukim di Lubuk Basung, Sumatera Barat.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


