KATASUMBAR – Peristiwa seorang warga di Nagari Katiagan, Kabupaten Pasaman Barat, Selasa (29/11) menjadi perhatian.
Hal ini terjadi saat warga yang bernama Paloso (43) itu saat mencari Lokan di pinggiran sungai Mandiangin.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar pun memberikan penjelasan soal penyebab terjadinya konflik antara Buaya dan manusia tersebut.
Dalam kajian yang dilakukan lembaga konservasi tersebut, Buaya diketahui sering beraktifitas di pinggiran sungai yang jadi habitatnya pada waktu tertentu.
Kepala BKSDA Sumbar, Ardi Andono menjelaskan, Buaya lebih intens beraktifitas di sekitaran habitatnya saat musim kawin.
“Musim kawin biasanya terjadi pada musim hujan ketika jumlah air di sungai tinggi. Faktor lainnya adalah karena kenaikan suhu udara,” katanya.
Saat musim kawin, Ardi menjelaskan, Buaya akan sangat jarang tampak oleh manusia.
“Musim kawin biasa terjadi 1-2 bulan (kemungkinan besar terjadi pada bulan November – Desember),” jelas dia.
Setelah kawin, Buaya akan cenderung memilih area di pinggir sungai yang berair tawar untuk meletakkan telurnya.
“Terutama di daerah rawa,” ujarnya.
Menurut Ardi, Buaya betina akan memilih tempat bersarang dan akan membuat dan mengamankan teritory sekitar sarang.
Aktifitas demikian juga melibatkan Buaya jantan. Sarang Buaya ini biasanya berada di daerah yang terbuka.
“Biasanya di daerah yg berlumpur dengan sedikit atau tanpa vegetasi di sekitarnya.”
“Sehingga dapat terexpose langsung oleh sinar matahari (yang membantu dalam proses menetasnya telur buaya),” paparnya.
Setelah menetas, Ardi menyebut Buaya betina akan berada di sekitar sarang yang ada telurnya sampai telur menetas yaitu 75 – 109 hari.
“Tujuannya selain menjaga telur dari predator, betina juga terus menjaga agar telur selalu basah.”
“Pada masa ini, maka buaya betina akan sering berada di permukaan dan sekitar sarang,” ulas Ardi.
Hindari Konflik
Terkait dengan itu, Ardi menyebut, lokasi-lokasi tersebut di atas harus dihindari oleh manusia.
Sebab tak jarang, Buaya akan langsung menyerang begitu mengetahui keberadaan ancaman di sekitar sarang tersebut.
Apalagi menurut Ardi, Buaya Muara yang biasa ditemui di Sumbar memiliki gigitan terkuat di antara semua mamalia.
“Jadi satu-satunya cara menghindari kejadian fatal serangan buaya adalah dengan tidak bersinggungannya ketika masa bertelur dan menunggu telur menetas,” tukasnya.
Adapun masa bertelur dan menunggu telur tersebut akan terjadi sekitar bulan Januari-Maret dan pada bulan April-Juni.
“Pada waktu ini-lah sering terjadi konflik antara Buaya dan manusia. Jadi kami rekomendasikan untuk menghindari kawasan tersebut,” pungkasnya.(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

