KATASUMBAR – Pakar Komunikasi Politik Universitas Andalas (Unand) Najmuddin M Rasul menilai kritikan Sekertaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto yang menyebutkan Food Estate Project merupakan proyek gagal.

Isu Food Estate Project sebagai proyek gagal disambut dengan riuh rendah oleh kompetitor politik dan kelompok oposan yang berada di luar pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurut Najmuddin, diujung masa jabatan Jokowi sebagai presiden banyak kebijakan politik politik yang dikritik publik, misalnya keterlibatan Jokowi pemilihan Jakarta International Satadium (JIS) sebagai venue pembukaan pertandingan Piala Dunia U-17, Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dan terakhir masalah Food Estate Project.

Jokowi mengatakan, proyek Food Estate bukan gagal, tetapi dalam prosesi. Namun menurut public termasuk NGO Lingkungan Hidup (WALHI), menilai Food Estate estate di Kalimantan Tengah yang terbengkalai menambah daftar panjang cerita kegagalan proyek lumbung pangan pemerintah Joko Widodo.

Pasalnya, program food estate secara historis, sejak masa Presiden Soeharto, tak pernah mendulang cerita sukses. Dengan begitu, menurut Walhi, kegagalan lumbung pangan di Kalteng itu bukti pemerintah tidak belajar dari pengalaman.

Menurut Jokowi, pelaksanaan proyek food estate ini tidak mudah seperti yang dibayangkan. “Jadi tidak semudah yang kita bayangkan. Kita bangun di Humbang Hasundutan, tiga kali itu baru bisa. Agak lebih baik, belum baik, agak lebih baik,” ujar Jokowi.

Bahkan Jokowi menyampaikan, kalau kita gak berani, baru gagal pertama sudah mundur, sampai kapan pun lupakan. Jadi kita itu membangun food estate, lumbung pangan itu untuk dalam rangka mengantisipasi krisis pangan.

“Sekarang Food Estate Project ini telah masuk ke ranah politik. Kritikan bukan hanya dilakukan lawan-lawan politik Jokowi, tetapi juga dilakukan oleh Hasto Kristiyanto Sekjend PDI Perjuangan,” kata Najmuddin, Minggu (20/8/2023).

Kritikan Hasto ini, kalau dilihat dari komunikasi politik, ada kesan bahwa, pertama Megawati kecewa dengan sikap politik Jokowi yang tidak full mendukung Ganjar Pranowo sebagai Bacapres dari PDI Perjuangan.

“Kedua, kebijakan Jokowi kurang menuju kearah akar tapak yang selama ini menjadi ikon marketing politik PDI-P. Ketiga, menunjukkan hubungan antara Megawati sedang tidak tidak baik-baik bahkan renggang,” kata dia.

Mereka, lanjutnya , menjadikan isu Food Estate Project sebagai proyek gagal sebagai tambahan amunisi politik.

Tentu ada pertanyaan publik. Mengapa Jokowi cenderung mendukung Prabowo yang didukung Golkar, PAN, PKB dan Gerindra dari pada mendukung Bacapres PDI Perjuangan.

“Saya melihat salah satu faktor yang membuat Jokowi terpikat dengan Prabowo. Pertama, Prabowo terang-terangan pendukung dan pencinta Jokowi,” ujarnya

Kedua, dengan tegas Prabowo mengatakan bahwa jika terpilih sebagai Presiden dia akan melanjutkan agenda Jokowi. Ketiga, ada ketakutan Jokowi, Koalisi GOLKAR, PAN, PKB dan PKB akan menarik kadernya yang ada di cabinet.

“Oleh sebab itu, menurut saya, isu Food Estate Project sebagai proyek gagal, bisa membuat Jokowi galau diujung masa jabatannya bahkan Suul Khatimah (ujung kehidupan yang kurang baik),” pungkasnya.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.