KATASUMBAR – Diplomat senior asal Minang, Dino Pati Djalal mengkritik Presiden RI Prabowo yang kerap ke luar negeri.
Kritikan mantan Wamenlu periode 2014 ini disampaikan secara terbuka lewat media sosialnya.
Menurut pria berusia 61 tahun tersebut dia memiliki tanggung jawab moril untuk menyampaikan pandangannya.
“Saya mengimbau kepada Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri,” ungkapnya dikutip Selasa 2 Juni 2026.
Dino meminta Prabowo memperhatikan atensi tinggi dari masyarakat yang menyorot perjalanan ke luar negeri tersebut.
“Dalam perhitungan kami, Bapak Prabowo menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri semenjak menjabat jadi presiden,” sambungnya.
Dino mengatakan, kunjungan ke luar negeri memakan biaya yang besar. Prabowo disebut menghabiskan 1 dari 6 hari di luar negeri.
“Ads biaya tim pendahulu, biaya pesawat, logistik, hotel, konsumsi, protokoler dan biaya harian uang delegasi. Satu perjalanan ke luar negeri, bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan miliar,” bebernya.
Ketimbang ke luar negeri, Dino menyarankan Prabowo melakukan sejumlah hal yang dirasa cukup untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin negara lain.
“Pertama saya sarankan Presiden Prabowo lebih mengandalkan telepon atau zoom call untuk menjaga komunikasi. Jadi dengan satu video call bisa menghemat biaya ratusan miliar,” jelasnya.
Kemudian, Dino menyarankan untuk menghemat waktu dan biaya, saat pertemuan bilateral dengan kepala negara lain, Prabowo bisa memanfaatkan kesempatan tersebut.
“Ketiga, saya berharap kunjungan presiden bisa dilakukan secara profesional dan perencana jelas,” sambungnya.
Keempat, Presiden Prabowo diharapkan untuk lebih banyak menerima tamu negara dan itu sudah pasti lebih menghemat biaya.
Terakhir, Dino Pati Djalal mengusulkan agar misi diplomatik dioper ke Menlu Sugiono dan ini lebih menghemat biaya.
Dia mencontohkan sejumlah kepala negara di dunia yang telah menerapkan langkah-langkah ini.
Profil Dino Pati Djalal
Dino adalah diplomat ulung kelahiran Beograd Yugoslavia. Ayahnya juga diplomat, yakni Hasjim Djalal.
Kedua orang tuanya berasal dari Ampek Angkek, Agam.
Karirnya dimulai pada 1987 ketika masuk ke Deplu. Berbagai penugasan penting pernah diembannya, seperti Jubis Satgas P3TT, Kepala Departemen Politik KBRI Washington dan Direktur Urusan Amerika Utara Deplu.
(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


