KATASUMBAR – Defri Rahmat (46), warga Lubuk Basung, Kabupaten Agam, memanfaatkan kebun dan pekarangan rumahnya untuk budidaya lengkuas.
Ia cukup sukses, dan berhasil meraih untung jutaan rupiah dalam satu kali panen. Pria ini membudidayakan lengkuas sejak 4 tahun silam.
“Di kebun hanya di bagian pinggir pagar kita tanam, lengkuas agak lama panennya,” katanya Rabu 20 Januari 2021.
Ia menanam tak terlalu banyak, beberapa bulan lalu Defri panen dan merogoh kocek sekitar 3,4 juta rupiah.
Jenis yang ia tanam, adalah lengkuas merah dan putih. Harga lengkuas merah adalah 3 ribu perkilogramnya dan yang putih 5 ribu.
“Yang putih lebih mahal karena masa panennya lama ketimbang yang merah,” ujar Defri.
Ia menjual lengkuas hasil panennya ke pedagang sayur di Lubuk Basung. Defri pun punya langganan sendiri.
Budidaya lengkuas, katanya, tak butuh perawatab ekstrs, masa panen antara 10-18 bulan.
“Menanamnya tidak sulit, tidak perlu dipupuk, sebab daun yang layu itu bisa sekaligus jadi pupuknya. Bahkan, di lahan terbatas pun lengkuas bisa tumbuh subur,” ungkap Defri.
Untuk bibit, sewaktu panen ia menyisakan beberapa batang yang tetap tertancap di tanah. Menurutnya, hal itu lebih cepat berkembang biak ketimbang harus ditanam ulang.
“Namun, berdasarkan pengalaman, tanaman seperti ini menyukai tempat yang tidak terlalu lembab dan terkena matahari yang cukup,” ulasnya.
Ditambahkan, lengkuas biasanya dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan dapur. Lengkuas seringkali berguna sebagai bumbu dari berbagai masakan, misalnya rendang ataupun gulai.
“Apalagi masakan Minang, lengkuas kayaknya tidak bisa tinggal. Jadi, akan ada saja yang membeli tanaman ini,” ujarnya.
Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian Agam, Sari Mustika menuturkan, tanaman lengkuas termasuk ke dalam tanam biofarmaka. Ia menyebut, beberapa waktu terakhir tanaman biofarmaka memang tengah naik daun.
“Biofarmaka jenis rimpang, seperti kunyit, lengkuas, jahe memang sedang tren di masyarakat, karena tanaman ini bisa dimanfaatkan untuk obat,” tuturnya.
Ia mengatakan, tanaman biofarmaka sangat potensial untuk budidaya. Namun, saat ini hanya jahe yang memiliki pasar yang luas.
“di Kabupaten Agam, Palembayan sudah jadi sentra Jahe. Lengkuas dan kunyit masih belum,” jelasnya.
Sari Mustika membenarkan budidaya tanaman lengkuas tidak membutuhkan perlakuan yang khusus.
Lengkuas termasuk tanaman yang mudah hidup di lahan terbatas seperti pekarangan dan polybag.
“Nah, ini cocok dengan gerakan Agam Menyemai. Lengkuas bisa menjadi tabungan dalam bentuk tanaman,” ujarnya. (AMC)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


