KATASUMBAR – Ribuan masyarakat Air Bangis, Kabupaten Pasaman Barat menyeruduk kantor Gubernur Sumbar, Kota Padang.
Mereka menduduki kawasan di depan gedung pemerintahan Provinsi Sumbar itu sejak Senin (31/7) lalu.
Sebanyak ratusan warga dari berbagai umur tersebut menduduki jalanan di depan kantor Gubernur, dengan membawa 4 tuntutan.
Adapun keempat tuntutan yang ingin mereka sampaikan kepada Gubernur adalah pencabutan Proyek Strategis Nasional yang diusulkan ke Menko Kemaritiman.
Pembebasan lahan milik masyarakat Air Bangis dari kawasan hutan produksi, pembebasan masyarakat dari Koperasi KSU ABS HTR Sekunder.
Terakhir, masyarakat juga mendesak pemerintah juga membebaskan mereka menjual hasil perkebunan sawitnya kemanapun.
Namun sayangnya, aksi tidak rampung dalam satu hari. Sebab, saat masyarakat menggelar aksi, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah tidak berada di tempat.
Dengan kondisi begitu, aksi terpaksa dilanjutkan pada hari kedua dan hari ketiga.
Ratusan yang awalnya berkumpul di depan kantor Gubernur Sumbar jadi beralih ke kawasan Masjid Raya Sumbar.
Kawasan di sekitar masjid tersebut dipakai oleh masyarakat untuk beristirahat dan lain sebagainya.
Katasumbar pun sudah menghimpun 5 fakta terkait aksi demonstrasi warga Air Bangis selama tiga hari belakangan.
1. Masjid untuk Istirahat
Massa aksi demonstrasi memanfaatkan kawasan Masjid Raya Sumbar untuk istirahat, sembari menunggu tuntutan mereka bisa disampaikan langsung ke Mahyeldi.
Menurut informasi yang dihimpun Katasumbar pada Selasa (1/8) malam WIB, setidaknya ada 1.500 orang warga yang menempati masjid tersebut.
Massa yang menempati masjid untuk istirahat ini dalam kondisi kekurangan.
Mereka membutuhkan pakaian kering, khususnya untuk anak-anak dan perempuan.
Selain itu, warga Air Bangis ini juga membutuhkan obat-obatan dan makanan.
Demi mencukupi kebutuhan mereka, Dinas Sosial Sumbar pun datang memberi bantuan berupa makanan, pakaian dan selimut.
2. Ditemui Gubernur Hari Ketiga
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah baru menemui ribuan warga Air Bangis ini di hari ketiga mereka menggelar aksi.
Kehadiran Gubernur ini dikonfirmasi oleh Kepala Biro Adpim Pemprov Sumbar, Mursalim.
Sebelumnya, kelompok massa ini sudah ditemui oleh bawahan Gubernur, yakni Asisten 2, Kaban Kesbangpol, Kadis Pertanian, Kadis Kehutanan, Kadis LH, dan Kasat Pol PP.
Namun, karena masyarakat hanya ingin bertemu dengan gubernur, perwakilan tersebut tidak diterima oleh massa aksi.
“Hari ini sudah dijadwalkan perwakilan bertemu dengan gubernur untuk menyampaikan aspirasi,” ujarnya.
Mursalim berharap pertemuan perwakilan demonstran dengan gubernur bisa membuahkan kata sepakat.
Sehingga masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing dengan tenang serta bisa beraktivitas seperti semula.
3. Anak-Anak Ikut Aksi
Sejumlah massa aksi yang merupakan emak-emak tampak juga membawa anak-anak mereka ke dalam aksi demonstrasi tersebut.
Seorang peserta demo, Hamna (30) mengaku, dirinya sengaja membawa tiga anaknya karena tidak tega meninggalkan mereka di kampung halaman.
“Kita juga ingin menyampaikan tuntutan ke Gubernur Sumbar, namun anak-anak terpaksa kami bawa kalau tidak ditinggal sama siapa,” katanya pada Katasumbar.
Hal yang sama juga diungkapkan Fitri Lubis (28). Fitri membawa empat anaknya yang masing-masing berusia
8 tahun, 7 tahun, 4 tahun, dan 7 bulan.
“Kalau ditinggal kita khawatir. Memang yang datang ke sini masih sebagian, yang tidak pergi ke sini itu seperti orang tua dan ibu hamil,” kata dia.
4. Massa Aksi Bangun Dapur Umum
Masyarakat Air Bangis yang jadi peserta aksi demonstrasi membangun dapur umum untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dapur umum tersebut didirikan sejak masyarakat tersebut menginap di Kawasan Masjid Raya Sumbar.
Masyarakat tersebut diketahui datang sejak Senin (31/7) dinihari. Kemudian pagi harinya langsung melakukan aksi bersama di Jalan Jenderal Sudirman depan Kantor Gubernur Sumbar.
Salah seorang yang bertanggungjawab di dapur umum tersebut Sibarayo Pasaribu mengatakan, pendirian dapur umum ini telah direncanakan jauh hari sebelumnya.
“Kita bawa alat masak langsung, bahan makanan serta kayu bakar dari Jorong Pigogah Patibubur. Stok makanan direncanakan untuk dua hari,” katanya kepada katasumbar.
Sibarayo melanjutkan, ia dan tim di dapur umum ini memasak sebanyak dua kali sehari.
“Kita masak untuk lebih kurang dua ribu bungkus nasi. Namun stok yang kita bawa kemarin, lalu kita beli lagi di sini,” ujarnya.
5. Ada Aksi Tandingan
Aksi demonstrasi hari ketiga yang dilakukan oleh masyarakat Air Bangis, dihiasi dengan adanya aksi tandingan.
Aksi tersebut dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang mengaku malah mendukung Proyek Strategis Nasional tersebut.
Aksi ini dilakukan oleh kelompok masyarakat pribumi Air Bangis, dan mereka juga menuding bahwa aksi yang dilakukan selama tiga hari ini penuh dengan unsur politik.
Di sisi lain, masyarakat pribumi itu juga mengaku, aksi tiga hari belakangan bukan dilakukan oleh warga asli.
Melainkan warga pendatang dari provinsi tetangga, yang menetap di kawasan Air Bangis.
Hal tersebut kemudian dibantah oleh Koordinator pusat BEM Sumatera Barat, Edri Rahmansyah.
Ia menyebut, bahwa aksi masyarakat murni, tidak ditunggangi oleh kepentingan politik manapun.
Ia bahkan juga mengungkapkan bahwa masyarakat yang menemui gubernur, bukan dari kelompok massa yang sudah berjibaku selama tiga hari belakangan.(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


