KATASUMBAR – Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar ditunjuk oleh Kompolnas sebagai salah satu calon Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Ia dan 4 jenderal polisi lainnya akan menggantikan Jenderal Indham Aziz.

Boy Rafli Amar sendiri merupakan polisi yang berpengalaman di berbagai jabatan. Mulai dari Densus 88 hingga terakhir menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Kendati menjadi salah satu kandidat kuat Calon Kapolri, tidak banyak yang mengetahui sosok Boy Rafli Amar sebelum namanya dikenal publik saat menjabat sebagai Kepala Divisi Humas Polri.

Sosok Boy Rafli Amar dikenal di Ibukota Provinsi Sumatera Barat medio 2008 hingga 2009. Saat itu, Boy dipindahkan oleh Kapolri dari jabatan sebelumnya Dirreskrim Polda Maluku Utara.

Saat bekerja di Padang, Boy dihadapkan dengan banyak masalah yang merundung Kota Bengkuang itu, salah satunya adalah keberadaan Pak Ogah, masyarakat yang jadi pengatur lalulintas dan kerap melakukan pungutan liar.

Pak Ogah menjadi salah satu persoalan yang dihadapi oleh Boy. Sebab, satu sisi keberadaan Pak Ogah membantu tugas Polisi dan di sisi lain, mereka juga kerap melakukan tindakan pengrusakan jika pengendara tidak memberikan uang atas jasa mereka, serta juga menjadi sasaran petugas.

Boy mengetahui fenomena ini saat berdiskusi dengan salah satu wartawan televisi di Padang, Tandri Eka Putra. Kepada Boy, wartawan yang kerap dipanggil Abeng itu menjelaskan fenomena tersebut, dan kemudian mencoba menemukan solusi yang baik atas keberadaan Pak Ogah ini.

Abeng bercerita, saat berdiskusi tentang Pak Ogah itu, Boy mengakui bahwa komposisi jumlah petugas dengan cakupan wilayah Kota Padang tidak sesuai, dalam artian jumlah petugas polisi tidak mencukupi.

Dengan begitu, Abeng menilai harusnya Pak Ogah diberikan penghargaan oleh polisi karena telah membantu kerja aparat. Tanpa butuh waktu lama, Boy langsung bertindak.

“Bagus, mereka telah membantu. Kita akan perhatikan mereka,” kata Boy pada Abeng saat itu. Bagi dia, tindakan yang diambil Boy bukan hanya masalah hitam dan putih soal peraturan saja, namun sebagai sosok pelindung masyarakat tanpa kenal kecuali.

Setelah memerintahkan Kasat Lantas Polresta Padang untuk menyiapkan sejumlah peralatan pengaturan lalulintas, Boy, sebut Abeng langsung menuju ke Sitinjau Lauik-lokasi yang paling banyak ditemukan Pak Ogah.

Ternyata, kunjungan Boy ke Sitinjau Lauik bukan sekedar kunjungan biasa. Boy mengajak para Pak Ogah ini untuk mengikuti pelatihan pengaturan lalulintas bersama Kepolisian.

Pak Ogah yang mulanya terkesan liar, usai ditemui Boy, berubah menjadi pengatur lalulintas yang benar. Dilengkapi dengan perlengkapan seperti rompi ala petugas jalan raya dan alat penunjuk arah hingga kode-kode tangan yang biasa digunakan Polantas saat mengatur lalulintas.

“Bahkan kadang mereka juga berdampingan dengan Polantas di sebuah persimpangan,” ungkap Abeng.

Polisi Media Darling

Boy Rafli Amar tidak lama menjabat sebagai Kapolresta Padang. Namun kehadirannya dicintai oleh masyarakat. Hal ini diungkapkan oleh Benny Okva, sosok wartawan yang terkenal memiliki hubungan cukup dekat dengan Boy.

Kala itu, Benny adalah wartawan dari salah satu surat kabar harian lokal Sumatera Barat yang membidangi peristiwa, hukum dan kriminal. Bidang liputan itu membuatnya dekat dengan kepolisian untuk memudahkan alur informasi.

Boy menjadi salah satu pejabat kepolisian yang paling sering dijumpai oleh Ben (panggilan akrab). Bagi Ben, sosok Boy merupakan tokoh polisi yang humanis dan tidak kenal waktu.

“Boy adalah sosok polisi yang disukai banyak kalangan, baik dari anggotanya sendiri, pedagang pasar, dan terutama wartawan,” kenang Ben.

Sebagai wartawan, menurut Ben, Boy memiliki hubungan yang sangat dekat dengan media massa. “Ia membangun hubungan itu bukan dengan materi, dan itu berhasil. Boy sungguh menjadi Media Darling saat itu,” ujarnya.

“Beliau tidak pernah tidak bisa dihubungi, bahkan ketika larut malam pun dia masih melayani telepon dari media untuk konfirmasi. Benar-benar 24 jam, itu jelas berbeda dengan pejabat lainnya,” ungkap Ben.

Selain itu, sosok Boy juga disebut Ben sebagai tokoh polisi yang nekat. Pada tahun 2009 lalu tepatnya pasca gempa 30 September, kata Ben, Boy pernah mengelilingi Pasar Raya Padang menggunakan sepeda.

“Saat itu kondisi Pasar Raya sangat buruk, beliau nekat mengelilingi pasar pakai sepeda sendirian tanpa pengawalan untuk memastikan keamanan pasar. Ini kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan terhadap beliau,” kenang Ben.

Kendati begitu, Boy disayang oleh masyarakat. Saat dia meninggalkan Kota Padang, ungkap Ben, Mapolresta Padang didatangi oleh pedagang Pasar Raya.

“Beliau menangis, pedagang menangis, kami wartawan pun menangis. Padang saat itu kehilangan penjaganya, seorang petugas polisi yang tidak pernah kenal waktu untuk bertugas, polisi yang melindungi dan dia adalah sosok yang mengayomi,” pungkas Ben mengakhiri.(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.