KATASUMBAR – Praktik pungutan liar (pungli) masih marak terjadi di Pasar Raya Padang. Kegiatan yang menjurus pada pemalakan ini menyasar sopir angkutan umum berbagai jurusan. Meski sudah dirazia oleh Polresta Padang pada Sabtu (12/6) lalu, para pelaku tidak jera.

Katasumbar pada Senin (27/6/2021) mencoba menelusuri praktik pungutan liar ini di kawasan Bundaran Air Mancur, salah satu sudut pusat perdagangan tradisional di Pasar Raya.

Bundaran Air Mancur menjadi tujuan akhir angkutan umum dari berbagai jurusan di Kota Padang. Mulai dari angkutan jurusan Lubuk Buaya, Indarung, Teluk Bayur, Pengambiran, dan Siteba. Disana lah para supir berkumpul menunggu penumpang ke jurusan masing-masing.

Dalam 3 tahun belakangan, kawasan Bundaran Air Mancur tidak lagi ramai. Pengunjung Pasar Raya lebih memanfaatkan angkutan daring sebagai sarana transportasi. Hal ini kemudian berdampak besar terhadap pendapatan supir angkutan massal.

Pungli Momok bagi Sopir

“Sekarang sepi, biasanya kerja seharian bisa dapat uang Rp200 ribu perhari, sekarang mencari Rp100 ribu saja susah,” kata Adi, salah satu sopir angkutan umum jurusan Lubuk Buaya.

Selain sepinya penumpang, praktik pungli juga jadi momok bagi para sopir angkutan. Adi mengungkapkan, dalam satu hari sopir bisa merogoh kocek hingga Rp50 ribu hanya untuk memberikan jatah preman di kawasan Bundaran Air Mancur tersebut.

“Kalau tidak diberi uang, supir ini diancam akan dipukuli dan ditakuti-takuti sehingga supir takut kalau melintasi kawasan Pasar Raya,” ungkapnya.

Keterangan Adi sesuai dengan pantauan Katasumbar pada Senin sore. Tampak, para pelaku pungli ini mulai memintai uang pada supir dari sekitaran Jalan M. Yamin, uang yang disetorkan supir sebesar Rp5.000. Terus ke dalam tepatnya di Bundaran Air Mancur secara bergantian sopir angkutan didatangi oleh 5 pelaku, nominal uang yang diberikan supir pada kelima 5 orang tersebut masing-masingnya Rp2.000.

“Pokoknya dalam satu trip pulang pergi bisa habis Rp20.000 untuk jatah preman. Biasanya mereka memintai uang dari pukul 3 sore hingga jam 7 malam,” ujar Adi kemudian.

Hal yang sama juga berlaku bagi angkutan umum jurusan Teluk Bayur, Siteba, Pengambiran dan Indarung tepatnya di sisi Timur Bundaran Air Mancur. Bahkan, jumlah pelaku lebih banyak dari angkutan jurusan Lubuk Buaya. Terhitung, dalam sekali ngetem angkutan tersebut didatangi oleh 8 warga secara bergantian, dan jumlah uang yang disetorkan sopir juga beragam mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000 per orang.

Melihat hal itu, Katasumbar juga mewawancarai para pelaku pungli tersebut. Beni (nama samaran) warga Purus 2, Kecamatan Padang Barat itu mengaku sudah 2 tahun menjadi tukang tagih uang harian-begitu ia menamai kegiatannya pada sopir angkutan umum.

Modal Botol pengharum

Bermodalkan satu botol pengharum ruangan seharga Rp12.000, Beni bisa meraup pendapatan hingga Rp200 ribu perharinya dari sopir angkutan.

“Kalau dimintai begitu saja tidak enak, jadi saya semprotkan pengharum ruangan ini ke kabin mobil lalu sopir memberikan uang Rp5.000 sebagai pengganti jasa saya. Sehari bisa dapat Rp200 ribu,” katanya.

Sebelum menjadi pelaku pungli, Beni bekerja sebagai tukang ojek di sekitaran GOR H. Agus Salim. Sejak transportasi daring mulai marak, ia kehilangan pekerjaannya.

“Motor saya tidak memadai untuk jadi ojek daring, sementara uang tidak ada untuk beli motor baru. Lalu saya pindah jadi sopir angkutan, namun karena sepi penumpang dan saya tidak punya SIM, makanya sekarang memunguti uang harian saja. Lagipula hasilnya lumayan,” jelas dia pada Katasumbar.

Bagi Beni, memunguti uang harian angkutan umum jadi pekerjaan yang paling mungkin ia geluti saat ini. Desakan ekonomi dan pandemi membuat dia tidak punya pilihan lain, meskipun beresiko hukum.

“Ya kalau sopir bilang saya adalah pemalak, tidak masalah yang penting saya dapat uang. Kasarnya, kalau tidak malak, tidak makan. Mau bagaimana lagi, saya tidak punya pekerjaan lain, cari kerja lain pun susah karena pandemi,” ucap dia.

“Kalaupun dirazia Polisi, sebisanya saya kabur, tapi kalau tertangkap, saya juga tidak takut paling dipenjara sebulan dua bulan. Setelah itu saya bisa kerja lagi, jadi tukang palak,” tambahnya kemudian.(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.