KATASUMBAR – Mahasiswa asal Minangkabau, Afwan Hafiz (26) menceritakan pengalaman berpuasa di Polandia.

Afwan Hafiz merupakan putra dari wartawan senior Bukittinggi, Hafni Pon.

Ia berstatus mahasiswa di Universitas Warsawa dan sudah menetap di Eropa sejak 2,5 tahun terakhir.

Menurutnya, suasana ramadan di Polandia sangat berbeda dengan Bukittinggi, sebab umat muslim adalah kaum minoritas di negara Robert Lewandowski itu.

“Di sini, puasanya lebih lama ketimbang tanah air. Saat ini musim semi, kita berbuka sekitar pukul 19.30. Kalau musim dingin, bisa lebih lama lagi jadwal berbukanya,” ungkapnya kepada KATASUMBAR baru-baru ini.

Selain itu, kata dia, di Warsawa tidak ada pasar takjil seperti di Indonesia. Sehingga, ia bersama teman-teman Indonesianya terpaksa memasak sendiri menu berbuka maupun sahur di apartemennya.

“Di sini juga tidak ada terdengar kumandang takbir maupun salat tarawih lazimnya di tanah air selama ramadan,” sambungnya.

Kendati demikian, di Warsawa sendiri, katanya, terdapat 3 masjid yang bisa menjadi pilihan untuk tarawih.

Masjid itu lumayan penuh saat tarawih. Kebanyakan jamaahnya berasal dari Timur Tengah, India, Afrika maupun Indonesia.

“Di samping kangen kampung halaman, tentu kita juga kangen suasana ramadan seperti di rumah,” ungkap Afwan.

Afwan mengatakan jumlah WNI di Polandia juga cukup banyak. Kebanyakan mereka adalah pekerja maupun mahasiswa seperti dirinya. Hanya saja, jumlah WNI asal Minang hanya bisa dihitung jari.

(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.