KATASUMBAR – Pemerintah menyiapkan strategi baru untuk mencegah kembali munculnya penolakan masyarakat terhadap trase pembangunan Tol Sicincin-Bukittinggi. Pendekatan yang disiapkan tidak hanya berfokus pada penetapan trase, tetapi juga melibatkan masyarakat sejak awal dalam proses sosialisasi.
Strategi tersebut mengemuka dalam rapat lanjutan pembahasan trase Tol Sicincin-Bukittinggi yang dihadiri Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Balai Jalan, serta pemerintah daerah.
Salah satu strategi yang disepakati adalah pemerintah tidak hanya melakukan sosialisasi secara umum, tetapi turun langsung ke masyarakat yang terdampak rencana trase.
Andre Rosiade mengatakan, pemerintah bersama Kementerian PU, Hutama Karya dan pemerintah daerah akan menjelaskan langsung rencana pembangunan kepada masyarakat, termasuk kepada ninik mamak di masing-masing jorong.
“Rencana trase ini akan kita ajak langsung masyarakat diskusi bersama gubernur dan Bupati Agam, Kementerian PU, Hutama Karya, dari jorong ke jorong bertemu ninik mamak menjelaskan kondisi sebenarnya,” kata Andre.
Menurut Andre, pendekatan tersebut penting agar masyarakat memperoleh informasi secara utuh mengenai trase yang direncanakan. Dengan demikian, informasi mengenai dampak pembangunan, akses masyarakat serta posisi jalan tol dan jalan penghubung dapat dijelaskan langsung sebelum tahapan pembangunan berjalan.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menghindari polemik seperti yang sebelumnya terjadi dalam pembahasan trase Tol Sicincin-Bukittinggi.
Dalam kesepakatan terbaru, pemerintah merencanakan perubahan Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT). Exit tol direncanakan berada di kawasan Pasar Amor.
Sementara akses dari Pasar Amor menuju Simpang Taluak tidak dibangun sebagai jalan tol, melainkan jalan bypass.
Skema tersebut dinilai dapat menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan kampung terbelah dan hilangnya akses warga akibat pembangunan jalan tol.
“Dari Pasar Amor ke Simpang Taluak itu bypass, bukan dalam bentuk tol. Jadi ketakutan masyarakat kampungnya terbelah, tidak punya akses, itu sudah terjawab,” ujar Andre.
Dengan konsep tersebut, masyarakat akan mendapatkan akses melalui exit tol di Pasar Amor sekaligus jalan bypass menuju Simpang Taluak.
Andre mengatakan, pemerintah ingin memastikan masyarakat memahami rencana tersebut secara menyeluruh sebelum pembangunan dilaksanakan.
Ia menilai, penolakan yang muncul sebelumnya tidak boleh kembali terjadi hanya karena masyarakat tidak mendapatkan informasi yang lengkap mengenai trase dan dampak pembangunan.
Karena itu, pertemuan langsung dengan ninik mamak dan masyarakat akan menjadi bagian penting dalam tahapan selanjutnya.
“Sehingga masyarakat bisa menerima informasi dalam bentuk yang utuh,” katanya.
Selain pendekatan kepada masyarakat, pemerintah juga menyiapkan strategi percepatan pembangunan secara bertahap. Andre berharap ruas Padang Panjang–Pasar Amor dapat lebih dahulu dikerjakan dan selesai sebelum 2029.
Sementara pembangunan dari arah Pariaman menuju Padang Panjang membutuhkan waktu lebih panjang karena terdapat pekerjaan terowongan sekitar 5,8 kilometer yang diperkirakan membutuhkan waktu konstruksi sekitar lima tahun.
“Yang bisa kita kerjakan segera Padang Panjang–Pasar Amor,” ujar Andre.
Dengan perubahan trase dan pendekatan langsung kepada masyarakat, pemerintah berharap pembangunan Tol Sicincin-Bukittinggi dapat dilanjutkan tanpa kembali tersendat akibat persoalan sosial di lapangan.
Pemerintah kini memiliki dua pekerjaan utama, yakni menyelesaikan penyesuaian dokumen trase dan memastikan masyarakat di sepanjang jalur memperoleh penjelasan langsung mengenai rencana pembangunan tersebut.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

