KATASUMBAR – Bulan Juni dikenal sebagai peringatan Bulan Bung Karno. Karena pada bulan Juni inilah, sang proklamator lahir.

Soekarno sendiri dikenal sebagai sosok yang mempelopori perjuangan kemerdekaan. Dibantu dengan rekan sejawatnya, Bung Hatta, ia juga dikenang sebagai sosok yang melahirkan Pancasila.

Namun tahukah kamu? perjalanan Soekarno menyusun Pancasila terbesit dari pengalamannya kala menetap di tanah Minang?

Berikut kisahnya..

Semua Warga Negara Indonesia (WNI) pasti mengetahui bahwa sila pertama pada Pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa.

Sila pertama itu ditanamkan kepada masyarakat sejak bangsa ini merdeka yang kemudian memiliki konstitusi.

Sila Ketuhanan yang Maha Esa itu pula yang menggambarkan kondisi bangsa.

Sebuah bangsa yang dihuni oleh masyarakat yang berragam ras, agama dan suku.

Namun, tahukan Anda darimana inspirasi lahirnya kalimat pada sila pertama tersebut?

Semua berawal dari kunjungan Soekarno ke Sumatera Barat usai menjalani pengasingan tahun 1942 silam.

Kala itu, Soekarno dibawa oleh Belanda ke Sumatera Barat usai menjalani pengasingan di Bengkulu.

Rencananya, Soekarno akan dibawa ke Australia melalui pelabuhan Teluk Bayur Padang. Namun situasi berkata lain.

Kala itu, Jepang telah menancapkan kuasanya di tanah Sumatera.

Jadilah Sumbar adalah satu-satunya tempat yang aman untuk menyembunyikan Soekarno.

Bung besar itu bertahan di Sumbar selama lima bulan, sejak Februari hingga Juli 1942.

Ia menetap di rumah Ema Idham, yang dulunya milik Waworuntu, rekan lama Soekarno di Kota Padang.

Selama ia berada di Sumbar, Bung Karno sempat berkunjung ke Perguruan Darul Funun, Puncak Bakuang, Padang Japang.

Dalam kunjungan itu, Bung Karno bertemu dengan Syekh Abbas Abddulah dan meminta saran.

“Bagaimana sebaiknya negara Indonesia ini didirikan?,” demikian pertanyaan Soekarno.

Konon, Syeikh Abbas lalu menyarankan, negara yang akan didirikan kelak, harus berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.

“Di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syekh Abbas mengatakan kedatangan Bung Karno ke DFA.”

“Tujuannya untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” ujar Fachrul Rasyid HF dilansir Historia.

Ia adalah salah satu penulis Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat.

Pertemuan antara Bung Karno dengan Syeikh Abbas memang hanya berlangsung sebentar.

Namun, konsep Ketuhanan Yang Maha Esa terpatri dalam pikiran Bung Karno.

Bahkan, ia masih ingat, Syeikh Abbas juga mengingatkan, jika konsep ketuhanan dihilangkan, maka revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

Kembali ke Ibukota

Setelah berada di Padang selama lima bulan, Bung Karno bertemu Komandan Gerakan F-Kikan, Kolonel Fujiyama.

Kala itu keberadaanya telah diketahui dan terpaksa ikut perjanjian dengan Jepang.

Kendati terpaksa, Soekarno juga memulai kembali perjuangannya terhadap kemerdekaan dengan mendirikan sebuah kelompok perjuangan.

Kehidupannya di Kota Padang dan Sumatera Barat ini lah yang menjadi cikal bakal progresifitas Soekarno dalam merebut kemerdekaan.

Meski demikian, setelah bertahun-tahun, konsep tentang sila pertama yang ia dapat dari Padang masih tetap diingat.

Akhirnya, pada 1 Juli 1945 mengajukan konsep demikan di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.