KATASUMBAR — Koreografer Rahmat Pangestu menghadirkan karya Bendera Putih sebagai penutup rangkaian pertunjukan hari pertama Festival Ganggam Tari Kontemporer #4 Tahun 2026. Karya tersebut mengangkat persoalan kehilangan, keterbatasan tubuh, serta kritik sosial yang dikaitkan dengan kondisi kehidupan masyarakat dan politik Indonesia saat ini.
Festival Ganggam Tari Kontemporer #4 tahun ini mengusung tema “Pulang ke Akar: Membaca Tradisi, Menulis Tubuh”. Sejumlah koreografer muda menghadirkan karya dengan latar gagasan yang berbeda, mulai dari penggalian tradisi hingga pembacaan terhadap realitas sosial kontemporer.
Dalam Bendera Putih, Rahmat menggunakan konsep kehilangan yang berangkat dari tradisi Bailau di Nagari Salayo, Kabupaten Solok. Tradisi tersebut berkaitan dengan ritual kematian ketika masyarakat menerima kabar duka dari kerabat yang berada jauh di perantauan.
Rahmat menjelaskan, masyarakat dalam tradisi Bailau menyampaikan kabar duka melalui nyanyian atau ratapan. Ketika jasad orang yang meninggal berada di perantauan dan tidak memungkinkan untuk dibawa pulang, batang pohon pisang digunakan sebagai media pengganti jasad untuk proses pemakaman di kampung halaman.
“Gagasan karya ini hadir melalui tatapan tradisi Bailau, yaitu ritual upacara kematian dari Nagari Salayo, Kabupaten Solok,” ujar Rahmat.
Karya tersebut dibawakan dengan seorang penari utama. Dalam beberapa bagian pertunjukan, penari lain masuk untuk membantu memainkan sejumlah properti yang digunakan dalam koreografi.
Pertunjukan dibuka dengan adegan seseorang sedang makan. Adegan tersebut dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara suara Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat pemerintah terdengar sebagai bagian dari latar pertunjukan.
Mangkuk atau wadah makan yang digunakan dalam adegan tersebut menjadi salah satu properti utama yang dieksplorasi Rahmat dalam koreografinya.
Selain gerak dan properti, musik garapan M. Gilang Ramadhan menjadi bagian penting dalam membangun suasana pertunjukan. Komposisi musik menggunakan distorsi suara serta potongan dan tumpang tindih suara pejabat untuk memperkuat suasana yang dibangun dalam Bendera Putih.
Melalui karya tersebut, Rahmat mempertemukan tradisi Bailau dengan persoalan sosial kontemporer. Simbol bendera putih yang secara umum dimaknai sebagai tanda menyerah digunakan sebagai judul sekaligus bagian dari gagasan artistik karya.
Bendera Putih menjadi karya ketiga sekaligus penutup rangkaian pertunjukan pada hari pertama Festival Ganggam Tari Kontemporer #4, setelah sebelumnya tampil Radat karya Reza Maulidi Akhbar dan Adwaya Sakti karya Ditta Putri.
Ketiga karya tersebut menawarkan pendekatan berbeda dalam menerjemahkan tema “Pulang ke Akar: Membaca Tradisi, Menulis Tubuh”. Radat berangkat dari tradisi ilau masyarakat Sumani, Adwaya Sakti mengeksplorasi realitas sosial kontemporer, sementara Bendera Putih mempertemukan tradisi Bailau dengan pembacaan terhadap persoalan sosial dan kehidupan masyarakat hari ini.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

