KATASUMBAR – Masakan Minang tak lagi hanya menjadi identitas kuliner masyarakat Sumatera Barat. Dalam beberapa tahun terakhir, kuliner khas Ranah Minang juga menjadi ladang bisnis bagi sejumlah figur publik nasional.
Tiga nama yang menarik untuk dibandingkan adalah komika asal Padang Praz Teguh, kreator konten Arief Muhammad, dan podcaster Deddy Corbuzier. Ketiganya sama-sama masuk ke bisnis kuliner Minang, tetapi menawarkan konsep, segmentasi pasar, dan strategi yang berbeda.
Praz Teguh mengandalkan cerita dan rasa rumahan lewat Warung Taburai. Arief Muhammad membangun Payakumbuah dengan penekanan pada autentisitas dan ekspansi bisnis. Sementara Deddy Corbuzier mencoba menghadirkan pengalaman makan nasi Padang yang lebih modern melalui Gadang Barubah.
Praz Teguh: Menjual Rasa Rumah dan Cerita dari Padang
Bagi Praz Teguh, bisnis rumah makan tidak sekadar menjual nasi dan lauk. Warung Taburai dibangun dengan konsep masakan rumahan yang terinspirasi dari resep almarhum ibundanya.
Konsep tersebut menjadi pembeda Taburai dibandingkan rumah makan Padang lain. Jika sebagian restoran mengusung citra premium atau pengalaman makan modern, Praz justru menawarkan kedekatan emosional melalui masakan yang dikaitkan dengan memori rumah dan keluarga.
Warung Taburai sebelumnya telah berkembang hingga memiliki belasan cabang di kawasan Jabodetabek. Pada 2026, Praz juga memperluas bisnis kulinernya melalui Kejar Setoran Food Space di Tebet, Jakarta Selatan, dengan konsep tempat makan yang lebih luas dan santai.
Dari sisi harga dan target pasar, konsep Praz cenderung menyasar konsumen yang mencari makanan sehari-hari dengan harga relatif terjangkau. Sejumlah menu menggabungkan karakter masakan Minang dengan pendekatan yang lebih sederhana dan kekinian.
Kekuatan utama Praz berada pada personal story. Ia menjual pengalaman makan yang dekat dengan identitasnya sebagai orang Minang sekaligus cerita keluarga di balik resep masakan.
Arief Muhammad: Membangun Jaringan dengan Cita Rasa Autentik
Jika Praz menjual cerita rumahan, Arief Muhammad membangun Payakumbuah sebagai bisnis rumah makan Minang dengan strategi yang lebih terstruktur.
Payakumbuah mengedepankan cita rasa autentik khas Minangkabau. Sejumlah bahan baku, seperti beras, cabai, dan rempah, didatangkan dari Sumatera Barat. Selain itu, konsep autentisitas juga diperkuat dengan keterlibatan tenaga masak dan resep yang memiliki akar dari Minangkabau.
Menu yang menjadi daya tarik antara lain dendeng batokok, ikan salai balado, rendang, ayam gulai, hingga sayur kapau.
Bisnis Payakumbuah juga berkembang dengan strategi segmentasi yang lebih luas. Arief mengembangkan konsep restoran dan rumah makan dengan tingkatan harga berbeda, sehingga dapat menjangkau konsumen yang mencari pengalaman makan lebih premium maupun pelanggan yang menginginkan harga lebih terjangkau.
Dibandingkan dua nama lainnya, Payakumbuah terlihat paling kuat dalam membangun brand sebagai jaringan bisnis kuliner Minang. Fokusnya bukan hanya pada popularitas pemilik, tetapi juga ekspansi cabang dan konsistensi identitas rasa.
Deddy Corbuzier: Nasi Padang dengan Sentuhan Conveyor Belt
Berbeda dengan Praz dan Arief yang menonjolkan cerita rumahan dan autentisitas daerah, Deddy Corbuzier mengambil jalur berbeda melalui Gadang Barubah.
Rumah makan Padang ini mencoba mengubah cara konsumen menikmati masakan Minang. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan conveyor belt untuk menampilkan dan menyajikan pilihan lauk, konsep yang lebih sering ditemukan di restoran sushi.
Puluhan jenis lauk khas Minang tersedia, mulai dari rendang, ayam gulai, ayam pop hingga gulai tunjang. Salah satu menu yang menjadi perhatian adalah tunjang yang disajikan menggunakan hot plate.
Gadang Barubah menawarkan pengalaman visual dan cara makan yang berbeda. Strategi ini membuat rumah makan tersebut tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman yang menarik untuk dibagikan di media sosial.
Pada 2026, Gadang Barubah disebut telah memiliki beberapa cabang, dengan konsep yang tetap menggabungkan masakan Minang dan penyajian modern.
Tiga Strategi, Satu Potensi Besar
Ketiga figur publik tersebut menunjukkan bahwa bisnis kuliner Minang dapat dikembangkan dengan berbagai pendekatan.
Praz Teguh memilih rasa rumahan dan kekuatan cerita pribadi. Arief Muhammad mengembangkan autentisitas dan jaringan bisnis. Sementara Deddy Corbuzier menawarkan inovasi pengalaman makan.
| Figur Publik | Brand Rumah Makan | Konsep Utama | Kekuatan |
|---|---|---|---|
| Praz Teguh | Warung Taburai | Masakan rumahan Minang | Cerita keluarga dan identitas personal |
| Arief Muhammad | Payakumbuah | Masakan Minang autentik | Konsistensi rasa dan ekspansi jaringan |
| Deddy Corbuzier | Gadang Barubah | Masakan Minang modern | Pengalaman makan dan konsep visual |
Fenomena ini menunjukkan bahwa masakan Minang memiliki daya tarik yang besar di pasar nasional. Namun, persaingan tidak lagi hanya soal siapa yang memiliki rendang atau dendeng paling enak.
Brand, cerita, pengalaman pelanggan hingga kekuatan promosi digital kini menjadi bagian penting dalam bisnis rumah makan.
Praz, Arief, dan Deddy memilih jalan berbeda untuk masuk ke pasar yang sama. Praz membawa cerita rumah, Arief membawa rasa kampung halaman, sementara Deddy mencoba membawa nasi Padang ke pengalaman makan yang lebih modern.
Perbedaan inilah yang membuat persaingan bisnis rumah makan Minang milik para figur publik tersebut menarik. Mereka sama-sama menjual masakan khas Ranah Minang, tetapi dengan cara yang berbeda untuk merebut selera konsumen.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

