KATASUMBAR  — Komunitas Seni Ku-liek menghadirkan beragam watak manusia melalui tokoh-tokoh wayang dalam pementasan “Wayang Padang” di Gedung Taman Budaya Sumatera Barat, Padang, Minggu (27/9/2026) malam.

Pementasan yang merupakan adaptasi dari naskah karya sastrawan Wisran Hadi tersebut menjadi bagian dari Alek Teater 10 yang mengusung tema “Manimbang Tradisi”.

Sutradara “Wayang Padang”, Afdal Putra atau Dalo, mengatakan konsep wayang dalam pertunjukan tersebut berbeda dari wayang pada umumnya karena tidak menggunakan boneka.

Tokoh-tokoh wayang diperankan langsung oleh manusia untuk menggambarkan bagaimana manusia dalam kehidupan sehari-hari dapat berada dalam kendali atau pengaruh pihak lain.

“Tanpa kita sadar, kita manusia adalah boneka sendiri, itu yang kita coba sampaikan,” ujar Afdal.

Menurutnya, gagasan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa setiap orang bisa saja sedang “didalangi” oleh pihak lain. Konsep itu kemudian dituangkan ke dalam naskah dan karakter para pemain agar penonton dapat bercermin terhadap dirinya sendiri.

Di atas panggung, para pemain tampil dengan karakter yang beragam. Ada tokoh yang centil, sedih, gila hingga urakan.

“Wayang-wayang itu dibikin karakter yang berbeda-beda. Ada yang centil, ada yang sedih, ada yang gila hingga urakan,” katanya.

Salah seorang pemeran anak kecil, Teguh, mengaku senang dapat terlibat dalam pementasan tersebut. Ia menyebut proses memainkan berbagai emosi dalam pertunjukan tidak menjadi kendala baginya.

“Saya senang sekali bisa ikut main di teater ini karena rasanya seru banget seperti sedang bermain. Semuanya menyenangkan dan saya tidak merasa takut sama sekali saat tampil di atas panggung,” ujar Teguh.

Selain tokoh-tokoh wayang dengan karakter yang beragam, pementasan tersebut juga menghadirkan tokoh perempuan penunggu sawah, penghulu, dan anak kecil.

Cerita kemudian berkembang pada persoalan harta pusaka Minangkabau yang menempatkan para tokohnya dalam pilihan antara mempertahankan tanah pusaka atau mengadaikannya sesuai dengan ketentuan adat.

Dramaturg “Wayang Padang”, Rafdi Syam, mengatakan persoalan tersebut menjadi dilema yang coba dihadirkan melalui pertunjukan.

“Di satu sisi ini sebenarnya sebuah dilema. Mengenai pilihan mempertahankan tanah pusaka atau mengadaikannya sesuai dengan syarat adat,” ujarnya.

Melalui “Wayang Padang”, Komunitas Seni Ku-liek tidak hanya menghadirkan pertunjukan teater, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali persoalan manusia, pengaruh kekuasaan serta pilihan dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi Minangkabau.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.