KATASUMBAR – Beberapa saat setelah terjadinya gempa bumi, sejumlah warga di Kota Padang, Sumbar, pergi ke pantai, hanya untuk melihat kondisi pantai setelah gempa.

Pemandangan itu selalu terjadi di sekitar kawasan Pantai Padang.

Menurut Pakar Gempa Sumbar, Ade Edward, tindakan warga ini merupakan bentuk kearifan lokal dari masyarakat untuk memastikan apakah air laut surut atau tidak.

“Sama dengan BPBD. Bedanya BPBD menggunakan alat, sementara warga melihatnya secara langsung,” ujar Ade Edward, selasa 25 April 2023.

Ade Edward tidak mempermasalahkan warga yang melihat langsung kondisi air pantai setelah terjadi gempa, apalagi saat early warning system atau sistem peringatan dini tidak berfungsi.

Hanya saja, warga itu harus paham apa yang harus Ia lakukan, serta memahami resiko yang harus Ia hadapi.

Menurut Ade Edward, untuk melihat apakah air laut surut setelah terjadinya gempa, tidak harus pergi ke tepi pantai.

Yang dekat sungai menurutnya juga bisa mengamati kondisi sungai tersebut.

“Jika air laut surut, otomatis sungainya juga surut. Jadi, tidak harus ke pantai,” tutur Ade Edward.

Ia juga mengapresiasi warga yang berada di zona merah yang telah melakukan evakuasi mandiri setelah gempa terjadi.

Menurutnya langkah tersebut sudah benar, sehingga tidak harus menunggu parameter BMKG setelah terjadi gempa.

Hanya saja masyarakat menurut Ade Edward perlu dukungan moril dan kepercayaan diri, sehingga bisa secara mandiri mengambil keputusan.

“Masyarakat harus memahami karakter atau tipe gempanya. Tipe gempa ada 2. Tipe pertama, gempa yang bergetar kuat seperti tahun 2009. Tidak tsunami, tapi bangunan runtuh,” ujarnya.

Kemudian tipe kedua, gempa yang berayun lama, namun tidak merobohkan bangunan.

“Jangan terkecoh, bangunan tidak rusak akibat gempa itu. Tapi bisa membangkitkan tsunami,” ujar Ade Edward.

Ade Edward menyarankan kepada warga untuk segera mengevakuasi diri secara mandiri jika terjadi gempa mengayun dengan durasi lama.

“Tidak harus ke jalan bypass atau ke zona hijau. Carilah gedung tinggi sekitar untuk evakuasi,” katanya.

Kemunduran Sistem Deteksi Dini

Ade Edward juga menilai sistem deteksi dini di Sumbar, terutama di Kota Padang, mengalami kemunduruan.

Menurutnya, hal itu terlihat saat terjadinya gempa yang berpotensi tsunami pada Selasa 25 April 2023.

“Kendali operasi lemah, komando lemah, warning system tidak efektif. Warga banyak yang kebingungan,” ujarnya.

Selain itu, Ia juga menyoroti sejumlah perlengkapan sistem deteksi dini yang ada sekarang.

Salah satu contoh, dulu ada monitor CCTV yang menyoroti kondisi pantai di Kota Padang secara live 24 jam. Namun sekarang tidak ada.

Padahal CCTV itu menurutnya sangat penting bagi warga dan petugas yang ingin melihat langsung kondisi permukaan air laut setelah terjadi gempa.

Tak hanya itu, dulu alat tide gauge yang dipasang untuk mendeteksi perubahan permukaan laut, kini juga sudah tidak berfungsi lagi.

“Kita tidak tahu apa masalahnya. Apakah kurang perawatan, tidak ada inovasi baru, atau memanng kurang peduli. Kita tidak tahu,” kata Ade Edward.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.