KATASUMBAR– Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Prof. Gusti Asnan mengungkapkan, di Sumatera Barat  banyak lahir tokoh-tokoh perjuangan.

Selain tokoh laki-laki, Sumatera Barat juga memiliki tokoh-tokoh perempuan yang tergolong berpengaruh, dan layak mendapat penganugerahan Pahlawan Nasional.

Salah satu tokoh perempuan tersebut, menurut Prof. Gusti Asnan adalah Rahmah El Yunusiyah. Tidak hanya sebagai pendiri lembaga pendidikan, namun dedikasinya juga terhadap peradaban dan kebudayaan di tanah air.

“Saya dari dulu sangat ingin sekali, dari kalangan perempuan Rahma El Yunusiyah, pendiri Diniyah Putri Padang Panjang. Saya termasuk orang yang dari dulu mengajungkan beliau,” terangnya saat diwawancara Katasumbar, Jumat 10 November 2023.

Ia menjelaskan, sebagai tokoh perempuan, di era 1950-1960-an, Rahma El Yunusiyah dinilai memiliki banyak dedikasinya terhadap pembaharuan.

Ia mengatakan, kontribusinya sebagai seorang seorang, tidak hanya berdampak pada sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan, namun juga terhadap pergerakan perempuan.

Menurutnya, melalui pergerakan perempuan yang dilakukan, pemikirannya mencerahkan kaum perempuan, dan sampai sekarang hasil pemikiran tersebut masih terus terwarisi dengan melahirkan perempuan-perempuan hebat.

“Dan warisan beliau sampai sekarang masih hidup, bahkan semakin lama semakin besar, Diniyah Putri mulai dari PAUD, TK, SD SMP, Tsanawiyah, Aliyah. Kemudian sekolah tinggi,”

“Dan alumninya sudah tersebar ke seluruh Sumatera, sampai ke Malaysia dan itu orang-orang besar Alumninya. Sehingga saya melihat, beliau layak berikutnya mendapat penganugerahan Pahlawan Nasional,” ujarnya.

Biografi Rahmah El Yunusiyah

Rahmah El Yunusiyah memiliki nama lengkap Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah.

Mengutip wikipedia, Rahmah El Yunusiyah lahir pada 26 Oktober 1900 di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang, Hindia Belanda dan meninggal 26 Februari 1969 pada umur 68 tahun.

Sebagai seorang perempuan, Rahmah El Yunusiyah tercatat sebagai seorang reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, perguruan yang saat ini meliputi taman kanak-kanak hingga sekolah tinggi. Sewaktu revolusi nasional Indonesia.

Selain itu, ketika revolusi nasional, ia mempelopori pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang.

Dalam mempelopori itu, ia menjamin seluruh perbekalan dan membantu pengadaan alat senjata.

Pendidikan dan Dedikasinya

Rahmah sempat belajar di Diniyah School yang dipimpin abangnya, Zainuddin Labay El Yunusy.

Tidak puas dengan sistem koedukasi yang mencampurkan pelajar putra dan putri, Rahmah secara inisiatif menemui beberapa ulama Minangkabau untuk mendalami agama, hal tidak lazim bagi seorang perempuan pada awal abad ke-20 di Minangkabau.

Selain itu, ia mempelajari berbagai ilmu praktis secara privat yang kelak ia ajarkan kepada murid-muridnya. Dengan dukungan kakak laki-lakinya, ia merintis Diniyah Putri pada 1 November 1923.

Diniyah Putri tercatat sebagai sekolah agama Islam perempuan pertama, di Indonesia.

Sewaktu pendudukan Jepang di Sumatera Barat, Rahmah memimpin Haha No Kai di Padang Panjang untuk membantu perwira Giyugun.

Kemudian, pada masa perang kemerdekaan, ia mempelopori berdirinya TKR di Padang Panjang.

Selain itu, ia mengerahkan muridnya melawan penjajah, dan membantu penyediaan makanan dan obat-obatan.

Kemudian, pada 7 Januari 1949, ia ditangkap oleh Belanda dan ditahan. Dalam pemilu 1955, Rahmah terpilih sebagai anggota DPR mewakili Masyumi, tetapi tidak pernah lagi menghadiri sidang setelah ikut bergerilya mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Keberadaan Diniyah Putri kelak menginspirasi Universitas Al-Azhar membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan.

Dari Universitas Al-Azhar, Rahmah mendapat gelar kehormatan “Syaikhah”—yang belum pernah diberikan sebelumnya—sewaktu ia berkunjung ke Mesir pada 1957, setelah dua tahun sebelumnya Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyah Putri.

Sementara, di Indonesia sendiri pemerintah pernah memberikan penganugerahan kepadanya, yakni Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta pada 13 Agustus 2013 sebagai tanda kehormatan.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.