BUKITTINGGI, KATASUMBAR – Dalam sejarah Universitas Fort de Kock Bukittinggi, perguruan tinggi ini berdiri sejak tahun 2004 yang dulunya bernama Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Fort de Kock Bukittinggi.

Baru pada tahun 2019, perguruan tinggi swasta ini berubah nama menjadi Universitas Fort de Kock.

Saat ini, Universitas Fort de Kock memiliki 2 fakultas, yakni Fakultas Kesehatan, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Untuk prodi (Program Studi) di Fakultas Kesehatan di antaranya S1 Prodi Kesehatan Masyarakat (Kesmas)

Kemudian ada juga S2 Prodi Kesmas, S1 Keperawatan dan Profesi Ners, Prodi Kebidanan, D3 Fisioterapi, serta S1 Farmasi.

Sementara untuk prodi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, ada Prodi Kewirausahaan serta Prodi Bisnis Digital.

Kampus ini berdiri megah di Jalan Soekarno-Hatta kawasan Garegeh, Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Sejarah Universitas Fort de Kock

Mengutip dari laman resmi Universitas Fort de Kock, Pembangunan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fort De Kock Bukittinggi dulunya sudah direncanakan semenjak Tahun 2002.

Pembangunan ini merupakan gagasan dari beberapa anggota Yayasan Pendidikan Fort De Kock Bukittinggi yang di pimpin oleh seorang Ketua Yayasan bernama Drs. Zainal Abidin, MM.

Setelah beberapa kali pertemuan, para anggota yayasan sepakat untuk mendirikan Perguruan Tinggi di kota Bukittinggi yang bergerak di bidang kesehatan.

Kesepakatan itu kemudian berlanjut dengan pembicaraan dengan pemerintahan Kota Bukittinggi yang saat itu Wali Kota Bukittinggi di jabat oleh Drs. H. Djufri.

Wali Kota saat itu merespons pendirian Perguruan Tinggi ini sesuai dengan Visi dan Misi Pemerintahan Kota Bukittinggi, menjadikan Kota Bukittinggi sebagai Kota Pendidikan dan Kota Pariwisata.

Atas dasar visi dan Misi Kota Bukittinggi ini maka pembangunan perguruan tinggi ini mendapat izin dari Wali Kota, dan di bangun dengan nama Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Fort de Kock Bukittinggi.

Proses pendirian ini kemudian berlanjut di Departemen Kesehatan RI untuk mendapatkan rekomendasi di bidang Sumber Daya Manusia.

Rekomendasi itu berguna dalam proses permintaan izin di Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 15 Juni 2004, terbitlah SK Mendiknas No. 77/D/O/2004.

Setelah itu, kampus STIKes Fort de Kock Bukittinggi berdiri di kawasan Kapeh Panji perbatasan Bukittinggi-Agam, dengan membuka enam program studi (prodi).

Prodi itu di antaranya Prodi Ilmu Kesehatan Kasyarakat, Program sarjana (S-I), Prodi profesi Ners, Prodi Ilmu Keperawatan Program Sarjan (S-I), Prodi D.III Kebidanan, Prodi D.IV Bidan Pendidik, dan DIII Fisioterapi.

Bangun Kampus Megah

Untuk pengembangan kampus, selanjutnya Yayasan Fort de Kock Bukittinggi kemudian membangun kampus baru yang megah di kawasan Garegeh Bukittinggi.

Secara bertahap, pada Agustus 2013 proses perkuliahan dan perkantoran kampus ini mulai pindah ke gedung baru kawasan Garegeh.

Pada tahun 2019, STIKes Fort de Kock resmi berubah status menjadi Universitas Fort de Kock Bukittinggi.

Perubahan itu sesuai dengan surat keputusan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 786 KPT/1/2019, tertanggal 26 Agustus 2019.

Saat ini, Universitas Fort De Kock telah memiliki sarana dan prasarana utama dan pendukung proses belajar mengajar yang sangat presentatif.

Mulai dari gedung, sistem informasi, internet, labor, hall serbaguna, Aula, Mini Teather dan lain sebagainya.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.