KATASUMBAR – Minangkabau pernah melahirkan seorang pesepakbola kelas nasional yang melegenda medio 1970-an.
Namanya Oyong Liza, pesepakbola kelahiran Padang, 10 November 1946 silam.
Oyong adalah legenda sepakbola Indonesia yang pernah memperkuat Timnas Indonesia pada musim 1975 lalu.
Karir Oyong bermula dari klub PSP Padang. Bersama pandeka Minang, ia gemilang dengan posisi sebagai Libero.
Bakatnya yang mampu menghambat serangan dari penyerang itu kemudian membuat Persija kepincut.
Bersama klub asal DKI Jakarta itu, Oyong menjadi satu-satunya pemain yang meraih gelar juara terbanyak.
Selama melakoni karir dengan Persija, Oyong tercatat tiga kali angkat trofi juara.
Pertama kali pada tahun 1972 dengan Piala Soeratin, kedua pada 1973 dengan Piala Perserikatan yang kemudian ia teruskan pada tahun 75 dan 79.
Pencapaian Oyong membuatnya ditarik ke Timnas Indonesia pada tahun 1975.
Kala itu, Timnas yang diberinama PSSI Tamtama itu baru saja kedatangan pelatih handal Wiel Coerver.
Coerver adalah mantan pelatih klub asal Belanda, Feyenoord, yang dimana pada musim 73/74 berhasil juara Piala UEFA.
Bersama Timnas, Oyong dkk ditargetkan Coerver bisa masuk Olimpiade. Sebuah target yang realistis kala itu.
Tidak hanya itu, ia ingin PSSI Tamtama bisa melenggang ke Piala Dunia 1978.
Kemampuan Oyong adalah salah satu pertimbangan Coerver untuk menetapkan target demikian-seperti dikutip dari arsip Goal.
Lawan Manchester United
Tak tanggung-tanggung, demi uji kemampuan, PSSI Tamtama pun diajak Coerver menantang salah satu raksasa Inggris, Manchester United.
Dalam laga yang dihelat di Stadion Senayan, Oyong sebagai seorang Libero berhasil merepotkan trio MU Lou Macari, Stewart Houston dan Brian Greenhoff.
Hasilnya, pertandingan berakhir dengan skor kacamata alias 0-0.
Sumohadi Marsis, wartawan Kompas dilansir dari Goal menilai saat itu MU tampil mengecewakan.
Apalagi klub berjuluk Setan Merah itu hanya membawa 14 orang pemain, dan 3 orang dari manajemen tim.
“MU bermain ala kadarnya, asal tidak kebobolan. Ketika terjadi pergantian pemain pada babak kedua, yang masuk sebagai pengganti adalah pemain nomor 15 bertubuh gendut bernama Tommy Docherty, yang tidak lain adalah sang manajer!” demikian Sumohadi mendeskripsikan pertandingan kala itu.
Namun, pencapaian Oyong dkk patut diacungi jempol. Sebab kala itu Timnas Indonesia belum begitu diperhitungkan.
Setelah pencapain itu, apa yang diimpikan Coerver pun ikut sirna.
Timnas Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia, dan takluk dari Korea Utara dalam laga Pra Olimpiade.(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


