KATASUMBAR – Kota Padang hari ini diguncang gempa hebat dengan kekuatan 7,3 Skala Richter. Kekuatannya berpotensi menimbulkan Tsunami.

Kejadian ini pun membuat warga Kota Padang panik. Tak sedikit yang memilih keluar rumah dan mengungsi demi menghindari bencana susulan.

Namun kemudian peringatan Tsunami itu dicabut, dan masyarakat sudah kembali ke rumah masing-masing.

Bicara gempa besar dan Tsunami, ternyata Kota Padang pernah dihantam Tsunami besar 2 abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1797.

Bencana ini melanda Kota Padang pada tanggal 10 Februari pukul 22:00 WIB.

Oakley Brooks dalam Buku Tsunami Alert: Beating Asia’s Next Big One mencatat, bencana itu terjadi akibat gempa berkekuatan 8,4 SR.

Brooks menulis, saat gempa mengguncang Kota Padang, warga yang bermukim di sekitaran Sungai Batang Harau berhamburan.

Air sungai yang membelah Padang Selatan itu pun seketika mengering.

Pasca gempa, ribuan orang yang bermukim di sekitaran Batang Harau meninggalkan rumah, yang diikuti retakan tanah sebesar 10 cm.

Tak lama kemudian, sungai yang mulanya kering mulai berair, tapi bukan dari hulu.

Air yang mengaliri Batang Harau ini-lah yang menjadi penanda gelombang pertama tsunami mulai menghantam Kota Padang.

Menurut catatan, saat kejadian itu, setidaknya air laut menghantam daratan dengan tiga kali periode gelombang.

Pada gelombang ketiga, kekuatan gelombang mampu menyapu bersih kawasan Padang Selatan saat itu.

Warga yang bermukim di Air Manis pun panik. Mereka senantiasa menyelamatkan diri dengan naik ke pohon, namun ternyata usaha tersebut malah sia-sia.

Sebab, ketinggian hantaman gelombang ketiga ini membuat air laut mampu mencapai cabang-cabang pohon.

“Para ilmuwan memprediksi ketinggian gelombang mencapai 5 meter,” tulis Brooks.

Tak cuma itu, sapuan gelombang ketiga ini juga mampu memindahkan satu kapal Inggris yang lego jangkar tak jauh dari pantai.

“Satu gelombang sanggup memindahkan kapal dagang Inggris seberat 150 ton dari muara sungai ke pasar burung di belakang benteng Belanda lama.”

“Lebih dari satu kilometer ke hulu. Perahu-perahu di muara juga melesat satu kilometer ke hulu,” kata Brooks dikutip dari Langgam.

Kala itu, yang menjadi korban adalah warga Belanda dan Tionghoa. Mereka rata-rata adalah penghuni kawasan Padang Selatan.

Tak cuma itu, bencana ini diperburuk dengan adanya gempa-gempa susulan sepanjang malam.

Paginya, seketika pemadangan Padang berubah. Bangunan sudah luluh lantak. Korban dimana-mana.

Kota Padang Terendam

Yose Hendra dalam tesisnya yang membahas sejarah bencana di Sumbar menyebut tsunami ini merusak 1 kilometer daratan Padang.

“Di Pantai Air Manis, perahu-perahu kecil hanyut hingga 1,8 kilometer ke hulu sungai,” sebut Yose.

BNPB dalam sebuah refleksi bahkan mencatat tsunami ini menyebabkan Kota Padang terendam.

Pemukiman warga di Air Manis luluh lantak dengan korban ±300 jiwa meninggal dunia.

Sebagian korban ditemukan bergelantungan tersangkut di cabang pepohonan.

Survei kelautan tahun 2008 mengindikasikan bahwa tsunami 1797 tersebut mungkin disebabkan oleh sumber lokal akibat longsoran bawah laut.

Istilah ini juga disebut dengan back thrust.

Dalam kajian itu, tsunami 1797 di Padang justru lebih tinggi dibandingkan 36 tahun setelahnya saat gempa 1833 yang secara magnitude lebih besar.

Namun ketinggian tsunami di Padang nya justru lebih kecil (2–3 meter).(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.