KATASUMBAR – Jaya pada masanya, Bus Kota Padang adalah salah satu moda transportasi yang jadi primadona bagi banyak orang.
Sebelum lahirnya era transportasi online, Bus Kota menjadi salah satu moda angkutan pilihan.
Tren Bus Kota ini berkembang sejak tahun 80’an hingga akhir tahun 2011 an.
Mulai tahun 2000 an, Bus Kota Padang terus berkembang menjadi sebuah komoditas yang prestisius.
Pasalnya, tidak hanya digunakan untuk mengangkut penumpang, Bus Kota di Padang juga kerap dijadikan ajang tanding modifikasi.
Modifikasinya pun tak tanggung-tanggung. Satu unit bus bisa punya fasilitas yang lengkap.
Fasilitas yang dimaksud adalah seperti audio, headunit, televisi, sunroof, hingga bagian body bus yang dilukis dengan aneka gambar.
Alasan utama para pebisnis Bus Kota ini dulunya adalah: Demi meraup penumpang.
Indra, salah satu pemilik Bus Kota jurusan Lubuk Buaya-Pasar Raya mengungkapkan hal demikian.
“Dulu kalau bus kita nggak keren, musiknya nggak enak suaranya, tidak ada penumpang yang naik. Dijamin sepi penumpang,” katanya pada Katasumbar.
Indra adalah pengusaha Bus Kota yang sudah berkecimpung di dunia angkutan sejak tahun 1999.
Awalnya, modifikasi Bus Kota, sebutnya bukanlah suatu hal yang penting. Namun tren penumpang berkembang sangat pesat.
“Awal tahun 2000 an mulai lah bus-bus ini dimodif. Saya juga tidak tahu awalnya darimana, yang pasti begitu trennya lahir, bus non modif langsung ditinggal,” ucap dia.
“Bus yang dimodif itu langganan pelajar, mahasiswa. Bus selalu penuh kalau modifan. Kalau tidak, penumpang kita hanya emak-emak,” imbuhnya.
Hal senada juga diucapkan Rahmat, pengusaha bus kota Tabing-Pasar Raya Padang.
Bagi Rahmat, Bus Kota yang tidak dimodif itu biasanya terkenal dengan istilah: Bus Sayur.
“Karena ngetemnya di Pasar Raya, dan penumpangnya adalah emak-emak yang pulang dari pasar bawa sayur, ikan, dan lainnya,” tutur pria 2 anak itu.
Saat ditanyai biaya modifikasi, Indra dan Rahmat serentak menjawab: Mahal.
“Satu bus, saya bisa habiskan Rp100 juta. Itu untuk cat, audio saja,” kata Indra.
“Saya bisa sampai Rp150 jutaan. Uangnya diambil dari kredit perbankan dan tabungan sendiri,” ungkap Rahmat.
Cat body bus dan audio menjadi dua hal yang paling penting dalam modifikasi Bus Kota kala itu.
“Soal mesin tidak begitu banyak, sebab perawatannya berkala,” tambah Rahmat.
Kendati habiskan biaya besar, penghasilan dari Bus Kota saat itu sebut Rahmat cukup menjanjikan.
“Dulu sehari sopir saya bisa setor Rp300 sampai Rp500 ribu. Itu keuntungan bersih saya,” sebut Indra.
Kematian Bisnis Bus Kota
Hanya saja, setelah kemunculan transportasi online, bisnis bus kota di Padang jadi lesu.
Indra bahkan sampai menjual semua bus yang ia punya demi bisa mendapatkan uang.
“Saya punya 4 bus, tahun 2014 saya jual semua. Ada yang beli utuh, ada yang beli chassisnya saja, ada pula yang beli mesinnya saja.”
“Kalau ditanya rugi, tentu rugi. Tapi daripada jadi besi tua mending dijual,” tukasnya.
Begitu pula dengan Rahmat, demi menutupi rugi ia sampai harus menjual aset tanahnya.
“Ya karena tidak ada biaya lagi, modal saya sampai Rp500 jutaan, dijual cuma laku Rp100 jutaan. Mau tidak mau jual aset demi menyambung hidup,” pungkasnya.
Kini segala sesuatu tentang Bus Kota Padang hanya tersisa kenangan.
Bus yang dulu raja jalanan Kota Padang kini hanya jadi besi tua, sebagian lain ada yang disulap jadi truk.(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

