KATASUMBAR – Padang Panjang terkenal sebagai Nagari Serambi Makkah. Ikon itu tak hanya terkenal hari ini, namun jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal itu terbukti dengan dibangunnya sebuah masjid pada abad 17 di daerah ini. Salah satu masjid itu yakni Masjid Asasi.
Masjid ini terletak di Nagar Sigando, Kota Padang Panjang. Dalam catatan Kerapatan Adat Nagari (KAN) setempat, masjid ini dibangun tahun 1770. Namun menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) tercata tahun 1702. Awal dibangun, masjid ini merupakan surau yang didirikan oleh suku yang tinggal di Nagari Gunung. Surau dibuat dengan kayu dan atap ijuk.
Pendirian masjid yang dicetuskan oleh masyarakat Nagari Gunung dan tiga nagari disekitarnya, yakni Paninjauan, Tambangan dan Jawo. Masjid ini dikenal dengan Surau Gadang. Nama Asasi baru dicetuskan pada 1930, yang berasal dari Bahasa Arab, yang berarti dasar atau sesuatu yang menjadi tumpuan. Sebelum kemerdekaan, masjid ini pernah jadi basis pengembangan Islam melalui kehadiran Madrasah Thawalib Gunuang.
Konstruksi
Masjid ini ditopang dengan delapan tongga penyangga dan satu tonggak macu di bagian tengah. Tonggak macu berukuran besar dengan diameter 1,5 meter dan tinggi 15 meter dengan bahan kayu yang dilapisi beton. Selain itu, semua komponen dalam membangun masjid ini berasal dari kayu, mulai dari dinding, lantai dan tiang penyangga.
Untuk motif yang ada pada masjid yakni motif flora. Kemudian ada jendela kaca berdaun dua di sisi utara dan selatan. Kemudian pada bagian mihrab ada dua jendela di sisi utara dan selatan. Untuk atapnya, dibuat berundak-undak sebanyak tiga tingkat dengan bentuk limas dan permukaan atap dibuat cekung. Hal ini cocok dengan iklim tropis yang ada di Indonesia.
Ruangan
Masjid ini memiliki tanah berukuran 25×22. Ruangan utama merupakan ruang salat dengan ukuran 13,1 m x 13,1 m. Letaknya ditinggikan satu meter diatas permukaan tanah dan membentuk kolong. Mihrab brada pada sisi barat dengan denah 2,2 m x 4,6 m. Selain itu, juga ada erambi dengan ruangan tertutup dengan ukuran 5 m x 4,4 m tanpa jendela.
Sementara untuk tangga masuk ada di sebelah kiri dan kanan serambi. Ruangan serambi sendiri berfungsi sebagai ruangan pengurus dan disekat dari ruang utama. Sedangkan di ruangan belakang ada sekumpulan benda kuno, brankas peninggalan Belanda dan tafsir Al-Quran berbahasa arab dan melayu.
Selain masjid, ada bangunan panggun lain sebagai tempat penyimpanan padi dan tempat bedug yang terbuat dari kayu kelapa. Sedangkan untuk tempat berwudhu ada di bawah bangunan rumah garin. Sumber mata airnya sendiri berasal dari mata air sekitar yang disebut dengan bulaan.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

