KATASUMBAR – Kereta Api Mak Itam tak lepas dari sejarah panjang tambang batu bara di kawasan Ombilin, Kota Sawalunto.

Tambang yang masuk daftar warisan dunia kategori budaya yang ditetapkan oleh UNESCO pada 6 Juli 2019.

Semua berawal dari penemuan kandungan batu bara oleh geolog Hindia Belanda Willem Hendrik de Greeve pada 1867.

Mengutip laporan ilmiah Andi Asoka pada 2005, hidup Mak Itam bermula dari penemuan De Greeve.

Kala itu, ia menemukan adanya cadangan batu bara mencapai dalam jumlah besar.

Jumlah cadangan Batu Bara disana yakni 200 juta ton dengan kualitas di atas 4.500 kalori per kilogram.

Saat itu, jumlah tersebut masuk kategori terbaik saat itu. Lokasinya terdapat di sekitar aliran Batang Ombilin.

Temuan itu ditindaklanjuti Pemerintah Hindia Belanda dengan pembangunan sarana dan prasarana.

Salah satunya jalur kereta api menjadi sarana transportasi penunjang pertambangan.

Kereta api digunakan untuk mengangkut hasil batu bara dari kawasan tambang di Sawahlunto menuju ke Pelabuhan Emmahaven di Kota Padang.

Mak Itam kala itu sampai menempuh jarak sejauh 150 kilometer dari Kota Sawahlunto ke Padang.

Pemerintah kolonial menugaskan perusahaan kereta api Sumatra atau Sumatra Staats Spoorwegen Westkust.

Tujuannya adalah sebagai pelaksana pembangunan yang dimulai pada awal 1891.

Pembangunan ini melibatkan puluhan ribu pekerja termasuk sebanyak 20.000 narapidana.

Mereka berasal dari berbagai penjara milik pemerintah kolonial saat itu, jalur kereta api ini rampung dikerjakan pada 1 Januari 1894.

Mak Itam dan Lubang Kalam

Jalur kereta tak hanya melintasi kawasan terbuka, melainkan juga menembus perbukitan Bukit Barisan.

Jalur ini melalui Lubang Kalam, sebuah terowongan sepanjang 825 meter yang berjarak sekitar 500 meter dari Stasiun Sawahlunto.

Lubang Kalam yang dikerjakan pada 1891 hingga 1894 menjadi akses tercepat saat itu dari Sawahlunto menuju Muaro Kalaban.

Jalur itu lah yang dilalui Mak Itam ketika mengangkut Batu Bara ke Padang.

Terowongan itu kini masuk dalam daftar cagar budaya Kota Sawahlunto.

Sistem Kerja Mesin Mak Itam

Yoga Bagus Prayogo dalam bukunya soal sejarah lokomotif di Indonesia menulis Mak Itam merupakan lokomotif uap spesial.

Hal itu karena memiliki gigi yang digunakan untuk melahap rute rel menanjak dan berkelok-kelok.

Ya, rute jenis ini banyak terdapat di lintasan Sawahlunto-Teluk Bayur.

Jalur berpemandangan alam nan indah ini dilahap Mak Itam nonstop selama 10 jam.

Lokomotif ini menggunakan susunan roda 0-10-0, yang artinya memiliki 10 roda penggerak.

Roda tersebut digerakkan bersama-sama oleh sebuah batang penggerak.

Lokomotif ini mampu menarik 40 gerbong batu bara dengan berat muatan hingga 130 ton sekali perjalanan.

Lokomotif ini memiliki empat silinder dengan dua di antaranya merupakan silinder untuk menggerakkan gigi-giginya.(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.