KATASUMBAR – Universitas Fort de Kock (UFDK) Bukitinggi menggelar Pemilu Raya untuk mahasiswa, Rabu 6 Maret 2024.
Dalam Pemilu ini mahasiswa memilih Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa, serta Gubernur dan Wakil Gubernur masing-masing program studi (prodi).
Menariknya, Pemilu ini menggunakan teknologi digital, mulai dari proses pemilihan hingga penghitungan suara.
Terdapat satu unit laptop di masing-masing bilik suara.
Saat mahasiswa tiba di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan masuk bilik suara, mahasiswa tidak mencoblos atau mencontreng kertas suara.
Tapi mahasiswa mengisi nama lengkap dan nomor induk mahasiswa dalam aplikasi yang sudah tersedia di laptop.
Jika semua data terisi dengan benar, barulah mahasiswa bisa memilih calon dengan cara mengklik gambar pasangan calon.
Mahasiswa hanya bisa melakukan satu kali pemilihan, dan jika memilih lebih dari satu kali, maka sistem secara otomatis akan menolaknya.
Menurut Ketua Panitia Pemilihan Umum (PPU) UFDK Bukittinggi, Farhani Auliya, ada dua TPS yang tersedia, yakni di Gedung A serta Gedung B.
Ia menyebut, pemilihan dengan sistem digital ini baru pertama kali berlangsung di UFDK.
“Ini sistem terbaru dengan pemilihan menggunakan laptop yang tersedia di bilik suara,” ujarnya.
Farhani Auliya menjelaskan, butuh waktu sekitar 2 bulan untuk persiapan pelaksanaan pemilu digital ini.
Sementara itu, Anggota Badan Pengawas Pemilu Raya, Arizki Permadi memastikan jika pemilu mahasiswa UFDK ini jauh dari kecurangan.
“Karena menggunakan sistem digital, jadi perolehan total suara calon itu bisa tahu saat itu juga, karena real time. Jadi tidak ada celah buat semua pihak untuk memanipulasi hasil suara,” jelasnya.
Kabag Kemahasiswaan UFDK, Rahmat Syukri menjelaskan jika peserta pemilu raya ini hanya mahasiswa reguler.
Menurutnya, untuk mahasiswa reguler yang sedang berada di luar kota, tetap bisa menggunakan hak pilihnya.
“Seperti yang berdinas di Kota Padang, Batusangkar, mereka mengisikan link yang disediakan khusus oleh panitia Pemilu,” ujarnya.
Rahmat mengatakan, saat ini ada sekitar 300 mahasiswa UFDK yang berada di luar kota.
Sistem Komputerisasi
Terkait sistem digital ini, Wakil Rektor III UFDK Bukittinggi Allans Prima Aulia menjelaskan, mulai dari input suara, proses penghitungan sampai dengan outputnya, berlangsung dengan sistem komputerisasi.
Cara kerjanya, ketika pemilih datang ke bilik suara, pemilih mengisi nama dan nomor induk mahasiswa.
Selanjutnya komputer akan mengecek apakah benar itu mahasiswa.
Kemudian jika setelah terferifikasi, sistem akan memilihkan jurusan yang sesuai.
Setelah pemilih selesai melakukan pemilihan calon gubernur, maka sistem akan berlanjut ke pemilihan presiden.
“Ada beberapa filtrasi untuk menghindari kecurangan, mulai dari keharusan pengisian nomor induk mahasiswa, hingga penolakan sistem jika ada yang memilih dua kali,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UFDK Evi Hasnita menjelaskan jika pemilu dengan sistem digital ini memberikan pembelajaran ke mahasiswa.
Yakni untuk menciptakan dan melaksanakan Pemilu yang jujur dan adil (jurdil) tanpa kecurangan.
Meski serba komputerisasi, rektor memastikan jika pemilu raya ini berlangsung secara langsung, umum, bebas dan rahasia (luber).
Mahasiswa tidak akan mengetahui temannya memilih siapa.
Karena sistem hanya memberitahu jika mahasiswa itu telah memilih atau telah menggunakan hak suaranya.
“Kami telah memiliki prodi Bisnis Digital, sehingga saat Pemilu Raya mahasiswa ini kami menerapkan sistem digital,” ujarnya.
Rektor UFDK membuka peluang bagi pihak terkait jika ingin bekerjasama untuk proses Pilkada atau sejenisnya.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

