KATASUMBAR – Kasus remaja AM, yang ditemukan tak bernyawa di Batang Kuranji menjadi perhatian banyak pihak, salah satunya Kementerian PPPA.

Pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bahkan mendesak pihak Kepolisian agar segera mengungkap penyebab tewasnya AM.

Sebab, meninggalnya AM saat ini sedang menjadi tanda tanya besar, lantaran adanya tanda lebam di bagian tubuhnya.

Tanda lebam tersebut diduga berasal dari tindakan pemukulan yang dilakukan oleh petugas kepolisian.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA Nahar mengatakan, pihaknya sejatinya menghormati proses hukum yang berjalan.

“(Namun) harus dipastikan (penyebab kematian) dan kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan,” katanya dikutip Antara.

Sejauh ini, Kementerian PPPA sebut dia, terus berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) setempat.

Selain itu, koordinasi juga turut melibatkan lembaga terkait untuk memastikan kejadian yang sesungguhnya.

Kemudian, Nahar menjelaskan pihaknya juga memastikan dilakukannya pendampingan bagi anak-anak lainnya yang berhadapan dengan hukum.

“Memastikan pendampingan bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum atau diduga melakukan, menjadi korban, dan menjadi saksi,” ucap dia.

Sebelumnya diketahui, emaja yang diketahui bernama Afif Maulana itu ditemukan tidak bernyawa mengapung di aliran sungai di bawah jembatan Kuranji Kota Padang, pada Minggu (9/6).

Pada dinihari sebelum ditemukan, ia diduga dikejar oleh personil Sabhara Polda Sumbar yang sedang membubarkan aksi tawuran remaja di lokasi tersebut.

Saat itu polisi memang mengamankan 18 orang remaja beserta senjata tajam yang digunakan untuk tawuran.

Namun kematian Afif dipertanyakan pihak keluarga, karena menduga ada perlakukan kekerasan yang dilakukan personil Polri.

Bantahan Polisi dan Temuan LBH Padang

Kapolda Sumbar, Irjen Pol Suharyono telah membantah adanya dugaan penyiksaan terhadap korban oleh anggotanya.

Menurut dia, tidak ada bukti dan saksi terkait dugaan penganiayaan berujung tewasnya siswa SMP tersebut.

“Kemudian perlu kami luruskan di sini, bahwa telah viral di media massa, justifikasi seolah-olah polisi bertindak salah.”

“Polisi telah menganiaya seseorang sehingga berakibat hilangnya nyawa orang lain. Namun, tidak ada bukti dan saksi sama sekali,” bebernya.

Suharyono berpegang pada kesaksian Adit yang merupakan teman AM. Adit mengatakan bahwa dirinya sempat diajak untuk melompat ke sungai agar lolos dari penangkapan polisi.

“Ini kesaksian yang kami ambil dari kawan-kawan yang ikut serta dalam tawuran itu.”

“AM tidak termasuk orang yang dibawa ke Polresta Padang ataupun Polda Sumbar,” sebut Suharyono.

Namun Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menemukan fakta lain, yakni adanya dugaan tindakan pemukulan.

Lewat sebuah keterangan resmi, Direktur LBH Padang, Indira Suryani mengatakan, pihaknya justru menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh remaja AM.

Bekas tanda dugaan pemukulan tersebut terlihat jelas di beberapa bagian tubuh remaja AM. Luka yang ditinggalkan tampak luka lebam, dan membiru.

Tidak hanya pada korban AM, luka serupa juga ditemukan LBH pada tubuh remaja lain yang berada di lokasi kejadian.

“Kami menolak tegas hal tersebut. Kami menemukan ada tanda-tanda kekerasan yang ada ditubuh korban AM.”

“Dan juga anak-anak lainnya melalui foto dan keterangan anak-anak yang dijumpai,” katanya dalam keterangan resmi tersebut.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.