KATASUMBAR – Pejuang kemerdekaan Chatib Sulaiman lahir di Jorong Seberang Air Taman, Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar.

Chatib lahir pada 1906, di rumah gadang keluarganya. Ia anak ke 5 dari 7 bersaudara. Ayahnya bernama Haji Sulaiman dan ibu Siti Rahma. Orang tuanya berasal dari wilayah yang sama.

Haji Sulaiman merupakan seorang pedagang rempah-rempah yang terkenal disiplin, sementara ibunya adalah guru mengaji.

Hingga saat ini, rumah gadang kelahirannya masih tetap lestari meski kondisinya mulai rapuh.

Dalam masa perjuangan itu, rumah gadangnya kerap jadi lokasi pertemuan dengan Hamka hingga Syafruddin Prawiranegara.

Sebelum menjadi pejuang, pria bersuku Sumagek dengan nama kecil Cati ini, hidup seperti anak minangkabau pada umumnya.

Tak jauh dari rumahnya, mengalir Sungai Batang Sumpur dan Danau Singkarak. Pastinya, semasa kecil, Chatib sering memancing atau berenang di sana.

Aktivitas penduduk yang kebanyakan adalah petani, membuat Chatib juga tak lepas dari persawahan dan perkebunan sawo hingga cengkeh.

Ia juga diketahui mahir pencak silat sebab di masa tersebut, di Sumpur banyak guru silat mumpuni.

Chatib Anak Surau

Keturunan ke 5 dari Pewaris Rumah Gadang Chatib Sulaiman, Fauzi Tarmizi mengatakan, buyutnya adalah produk yang lahir atas didikan surau.

“Di masa itu, lelaki minang banyak di surau, kebetulannya di sini setiap suku memiliki surau,” katanya diperbaharui, Selasa 17 Mei 2022.

Fauzi mengatakan, Chatib orangnya sedikit pendiam, jarang bergaul namun sopan dan terkenal akan keberaniannya.

Kendati introvert, kewibawaannya sudah tampak sedari kecil, yang kemudian semakin terasah di masa pergerakan.

“Chatib Sulaiman ini hobinya cukup aneh, bermain catur sendirian. Ia juga hobi memainkan biola,” ungkapnya.

Sekitar umur 30-an, Chatib mulai terlibat geraka politik di Padang Panjang. Dan ia diketahui memiliki 2 istri di Sumpur.

“Istri pertamanya tak punya anak, lalu pisah. Kemudian menikah lagi dengan Zubaidah, lahir anak 2 yakni Syahrir dan Nurcahya, selanjutnya ia juga menikah dengan orang Padang Panjang,” kata Fauzi.

Chatib terus melakukan pergerakan menentang Belanda hingga ia gugur dalam usia 42 atau 43 tahun di Situjuah.

(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.