KATASUMBAR – Bukittinggi sangat kaya dengan wisata kulinernya, salah satu yang paling legendaris adalah Martabak Kaka.
Berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Kampung Cino, jajanan ini ternyata sudah ada sejak tahun 1923 silam.
Jika dikomparasikan dengan Jam Gadang yang berdiri 1926, martabak ini lebih tua.
Kedai ini sebenarnya tergolong biasa saja, relatif sempit dengan sejumlah kursi-kursi tua dan bangunan kayu. Namun, kedai martabak ini sangat kaya akan rasa dan nilai historisnya.
Kini, kedai itu dikelola oleh generasi ke 3 dari pendirinya.

KATASUMBAR mengunjungi kedai yang terletak di seberang Masjid Nurul Haq tersebut pada Selasa 19 Juli 2022.
Sejarah Martabak Kaka
Dari Muhammad Yusra (56), pengelola Martabak Kaka, didapat cerita jika kedai ini didirikan oleh kakeknya yang bernama Kaka Musa.

Dia mengatakan, Musa adalah pria asli Malabar, India Selatan. Musa lahir pada 1889 silam. Usia 16 tahun, ia migrasi ke Indonesia, tepatnya Palembang.
Sebentar di Palembang, Musa hijrah ke Bukittinggi dan mendirikan kedai kopi di samping Masjid Raya. Hanya beberapa bulan, Musa pindah ke Jalan Syech Bantam.
Pada 1930, kedai ini pindah ke Jalan Ahmad Yani dan terus bertahan hingga kini dengan menu andalan martabak mesir. Karena nama kakeknya adalah Kaka, selanjutnya kedai ini disebut Martabak Kaka.
Tempat Berkumpulnya Pejuang
Dari cerita yang diterima Yusra, kakeknya dipanggil penduduk lokal dengan Tuan Kari. Dia sangat terobsesi dengan kemerdekaan Indonesia.
Para pejuang zaman era pra kemerdekaan hingga PDRI seperti Syafruddin, pernah mengopi dan mencicipi martabak ini. Di sini, mereka berdiskusi mengenai kemerdekaan.
Lokasi kedai cukup berdekatan dengan Benteng pertahanan Belanda. Penjajah tak pernah curiga, sebab mereka menganggap orang India adalah pihak netral.
Tuan Kari terus mengumpulkan informasi dari orang-orang Belanda yang singgah ke kedainya pada siang hari, dan membagikan informasi ini kepada pejuang yang berkumpul di kedainya di malam hari.
Tak hanya sekedar tinggal di Bukittinggi, Tuan Kari juga menikah dengan orang Indonesia bermarga Lubis yang sudah lama menetap di Bukittinggi.
Pada 1971, Tuan Kari wafat dan usaha ini diteruskan oleh anak cucunya.
Keistimewaan Martabak Kaka
Martabak ini memiliki keistimewaan berupa rasanya yang sedikit mengadopsi masakan India. Bumbunya kering dengan campuran kari kambing.

“Semuanya terbuat dari rempah-rempah, kita anti micin daei dahulu. Saat ada pesanan, kita langsung mencampur adonan dan memasaknya,” ungkap Yusra.
Ada 2 tipe martabak yang dijual, martabak telur ayam dengan harga Rp 24 ribu perporsi dan telur bebek seharga Rp 26 ribu.
Rasanya gurih, dan campuran kuahnya sangat terasa keenakannya. Kedai buka dari siang hingga malam hari.
Bagi pengunjung yang ke Bukittinggi, tak ada salahnya mencicipi hidangan kaya sejarah ini. Di dalam kedai, juga terdapat sejumlah foto yang menceritakan Bukittinggi tempo dulu.
(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


