KATASUMBAR – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertamax resmi naik pada 1 April 2022. BBM Non Subsidi Gasoline RON 92 (Pertamax) disesuaikan harganya menjadi Rp 12.500 per liter atau naik Rp3.500 dari harga sebelumnya.

Dirut Pertamina, Patra Niaga Alfian Nasution, mengatakan, kenaikan harga tersebut tak jadi masalah di Sumbar. Hal ini disebutkannya saat sidak kelangkaan solar bersama anggota DPR RI Andre Rosiade Jumat (1/3).

“Saya mendapatkan info langsung di lapangan, masyarakat Sumbar lebih menyukai pertamax dibandingkan pertalite,” ujar Patra.

Menurutnya, karena pertamax kualitasnya lebih bagus daripada Pertalite sehingga peminatnya masih banyak.

“Jadi, saat ini meskipun harga Pertamax sudah dinaikkan sekitar Rp3.500 tapi masyarakat Sumbar tetap memilih pertamax. Karena tadi saya tanya mereka tahu dari media, harusnya secara ekonomi pertamax itu harganya berapa, mereka tahu,” ujarnya.

“Jadi, untuk lebih efisien dan irit karena kualitasnya lebih bagus tadi kami lihat warga lebih memilih pertamax,” katanya.

Kelangkan solar

Seperti diketahui, Dirut Pertamina Patra Niaga dan Anggota DPR RI Andre Rosiade melakukan sidak kelangkaan solar di sejumlah SPBU di Sumbar.

Patra mengatakan kelangkaan solar di Sumbar didapat informasi dari rapat di Komisi VI dengan Pertamina yang dihadiri Andre Rosiade. Dia datang ke Sumbar juga karena ajakan dari Andre Rosiade.

“Sesuai aspirasi masyarakat Sumbar, pak Andre menyampaikan ke saya. Kita melihat banyak antrean solar di Sumbar. Sejak minggu sudah terus ditambah pasokannya ke Sumbar. Memang, untuk menambah itu tidak bisa langsung jebret. Tapi pelan-pelan tetap kita tambah. Untuk Sumbar sudah ditambah sekitar 5-10 persen di atas kuota,” katanya.

Alfian mengatakan, datang ke Sumbar bersama Andre Rosiade untuk mengecek apakah antrean masih ada. Apakah kebutuhan masyarakat Sumbar Sudah terpenuhi semua.

“Hasilnya, ternyata antrean sudah mulai terurai dan tadi informasi juga dari SAM Sumbar, bahwa kita akan terus tambah pasokan jika diperlukan,” katanya.

Dia menegaskan, berbarengan dengan penambahan, semua pihak harus saling mengawasi. Karena, berapapun solar yang ditambah, kalau tidak diawasi bersama masyarakat dan aparat untuk yang berhak menggunakan solar subsidi percuma.

“Seperti truk yang rodanya di atas enam untuk pengangkut sawit dan batubara itu tidak boleh menggunakan solar subsidi. Kalau kita tidak awasi bareng-bareng, tetap kurang juga,” katanya.

Seharusnya, sebutnya, tidak boleh ada truk yang menggunakan tangki tambahan. “Saya sudah minta untuk operator tidak melakukan pengisian truk yang menggunakan tangki tambahan. Karena itu sudah menyalahi aturan, setiap truk itu maksimal boleh mengisi solar 200 Liter,” katanya.

Alfian mengatakan kuota solar nasional mencapai 14,9 juta kilo Liter (KL). Kuota solar subsidi Sumbar 411.028 KL per tahun, atau 34.252,3 KL per bulan atau atau rata-rata setiap harinya 1.123 KL. Jika terjadi kenaikan sebesar 5 persen, maka setiap harinya akan dialokasikan sebesar 1.182 KL atau 431.579 KL per tahun. Angka tersebut dinilai belum mencukupi, karena pasokan yang paling aman adalah sebesar 474.500 KL per tahun atau 1.300 KL per hari. (*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.