KATASUMBAR — Kedatangan bulan suci Ramadan tinggal menghitung hari. Masyarat Minang menyambut gembira saat kedatangan bulan puasa ini.
Ninik Mamak Suku Pili (Piliang) di Kenagarian Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Syuhendri Dt. Siri Marajo, mengatakan, masyarakat tradisional di Minang memiliki beberapa tradisi untuk menyambut Ramadan.
“Tujuannya bahwa mereka (masyarakat Minang) berbahagia dan bersuka cita saat Ramadan datang,” ujarnya.
Setidaknya ada tiga tradisi yang masih lestari dan dipakai sampai hari ini, yaitu.
1. Maanta Bareh Pasaharan
Menurut Syuhendri, maanta bareh adalah aktivitas kemenakan yang mengantarkan beras kepada mamaknya.
“Tradisi ini masih ada di Balingka sampai hari ini,” ujarnya.
Tujuan tradisi ini, sebutnya, menghormati Ninik Mamak. Asumsinya, jika Ninik Mamak tidak memiliki beras yang akan dimasak, sudah dibawakan oleh kemenakannya.
“Jadi, puasa Ninik Mamak tidak terganggu karena harus memikirkan beras,” ujar Syuhendri.
2. Balimau
Balimau juga ada dalam tradisi Minang. Tapi, sebut Syuhendri, bukan mandi-mandi.
Tradisi balimau dalam adat Minang adalah merebus air dari rempah-rempah kemudian diberikan irisan limau sundai atau limau kapeh. Lalu diusapkan ke rambut.
Tujuannya adalah penyucian dengan wangi-wangian menyambut puasa.
3. Maaf-maafan
Syuhendri mengatakan maaf-maafan juga bagian dari tradisi di Minang menyambut Ramadan.
Menurut PNS di Taman Budaya ini, maaf-maafan tidak hanya kepada orang yang dikenal, tapi kepada siapa saja.
“Siapa saja bertemu, ya, maaf-maafan,” ujarnya. Tujuannya adalah membangun suasana kesucian. Jadi, ketika Ramadan datang, benar-benar sudah suci hatinya. (*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


