KATASUMBAR – Pelaku usaha bidang pariwisata di Kota Padang mengalami kerugian besar selama pandemi Covid-19. Beberapa di antaranya bahkan mengalami kerugian miliaran rupiah dalam kurun waktu 8 bulan.
Kerugian secara ekonomi ini sudah dialami oleh pelaku-pelaku usaha yang bergerak di bidang wisata bahari di Ibu Kota Sumatera Barat tersebut sejak Maret lalu.
Restu Pratama, salah satu pengusaha wisata bahari di Padang menyebut, dirinya bahkan mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
“Kami bergantung hidup pada wisatawan, sekarang wisatawan tidak ada dan jelas berdampak pada ekonomi orang-orang seperti kami,” katanya pada Katasumbar, Minggu, 25 Oktober 2020.
Restu mengatakan dari Maret hingga Oktober ini adalah periode kunjungan tertinggi wisatawan untuk wisata bahari.
“Kami menyediakan jasa wisata ke pulau-pulau terdekat seperti Pasumpahan, Pamutusan, Pagang, dan lainnya. Periode terramai adalah sejak Maret hingga Oktober ini. Jadi kalau dihitung selama pandemi, kerugian kami bisa mencapai Rp100 juta dalam 8 bulan ini,” jelas Restu.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Restu mengaku tidak memiliki opsi pekerjaan lain dan terpaksa hidup dari tabungannya, “Tidak ada pilihan lain, terpaksa tabungan yang diakali untuk hidup, sebab tidak ada pula bantuan dari pemerintah,” ujar dia.
Hal senada juga diungkapkan oleh Roman, warga Pasie Nan Tigo, Kota Padang. Ia adalah pengusaha penyedia angkutan wisatawan ke pulau-pulau di sekitaran pesisir Padang.
Selama pandemi, Roman mengaku mengalami kerugian hingga Rp1,2 miliar. Jumlah itu ia dapatkan dari perbandingan keuntungan bersih pada periode yang sama tahun 2019 lalu.
“Tidak hanya ke pulau-pulau terdekat saja, tapi juga bisa ke Mentawai. Sekarang tamu tidak ada sama sekali, saya mau makan pakai apa? Kapal saya mau jalan pakai apa kalaupun situasi kembali normal,” tukas pria 38 tahun itu.
Berbeda dengan Restu, Roman menyebut dirinya sendiri sebagai pengusaha yang bangkrut. Sebab, dia tidak memiliki modal sama sekali untuk mengoperasikan kapalnya kembali saat ekonomi kembali normal.
“Sekarang modal operasional kapal itu sudah habis untuk biaya hidup sehari-hari. Kedepan tidak ada lagi. Saya sudah bangkrut,” sebut bapak 3 anak itu. “Seharusnya, pemerintah juga ikut memikirkan nasib warga yang bergantung hidup dari sektor wisata ini,” tambah dia lagi.
Saat diwawancara, Restu dan Roman sama-sama setuju bahwa pemerintah harus mengeluarkan regulasi dan kebijakan yang ikut mempertimbangkan nasib pengusaha.
“Sekarang ada lagi larangan untuk membatasi keramaian. Pesta pernikahan dilarang, berramai-ramai dilarang, tapi usaha cafe, restoran dan bahkan tempat hiburan malam tetap buka. Ini tidak adil, saya kecewa,” sebut Restu.
“Jika memang akan dibatasi, batasi semua sektor, jangan terkesan tebang pilih. Sekarang tamu-tamu saya dilarang untuk berwisata dengan alasan protokol kesehatan, padahal saya sudah menerapkan semua syarat itu pada tamu-tamu namun tetap dilarang. Sementara pengunjung cafe, restoran dan lainnya itu belum tentu pula bebas dari Covid-19,” ucap Roman.
Keduanya meminta agar pemerintah memikirkan nasib masyarakat secara adil dan menyeluruh. “Adil lah dalam berkebijakan, jangan tebang pilih. Ada yang lebih penting dari sekedar pembatasan sosial yaitu ekonomi masyarakat sesuai dengan perintah pemerintah pusat,” pungkas Restu.(*)
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

