KATASUMBAR — Pernahkah anda berada di tengah keramaian, lalu seseorang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri? Tidak bernapas, denyut nadi menghilang, dan hanya tersisa kepanikan. Dalam kondisi seperti itu, banyak orang tak tahu harus berbuat apa. Padahal, tindakan pertama dalam beberapa menit awal jika dilakukan dengan tepat dapat menentukan hidup atau tidaknya korban, dengan kata lain, nyawa korban bisa tertolong dengan Pertolongan Pertama Pada Korban.
Inilah pentingnya Bantuan Hidup Dasar (BHD): keterampilan sederhana yang bisa dipelajari siapa saja, dan memiliki dampak luar biasa dalam menyelamatkan nyawa. Menjadi dasar untuk pertolongan pertama sebelum bantuan medis datang untuk menyelamatkan korban dengan SOP pertolongan yang tepat
Apa Itu BHD?
BHD atau Basic Life Support (BLS) adalah serangkaian tindakan pertolongan pertama untuk mengatasi henti jantung dan henti napas, sebelum bantuan medis profesional tiba.
Tujuannya adalah menjaga aliran darah dan oksigen ke otak dan organ vital agar tidak mengalami kerusakan permanen.
Langkah-langkah BHD diringkas dalam prinsip C-A-B:
– C (Compression): Menekan dada korban secara ritmis untuk menggantikan fungsi jantung.
– A (Airway): Membuka jalan napas korban.
– B (Breathing): Memberikan napas buatan bila diperlukan.
Tindakan ini tidak butuh alat khusus—cukup dua tangan, keberanian, dan pelatihan dasar.
Mengapa Masyarakat Harus Tahu BHD?
Lebih dari 80% kasus henti jantung terjadi di luar rumah sakit, seperti di rumah, sekolah, tempat kerja, atau tempat umum. Di Indonesia, masih banyak kasus di mana korban meninggal bukan karena keterlambatan ambulans, tapi karena tidak ada orang di sekitar yang tahu BHD.
Negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah mewajibkan pendidikan BHD di sekolah, dan hasilnya sangat nyata: angka keselamatan korban meningkat signifikan. Sudah saatnya Indonesia menyusul.
BHD Bukan Hanya Tugas Tenaga Medis
Banyak yang beranggapan bahwa tindakan menyelamatkan nyawa hanya tugas dokter atau perawat. Padahal, dalam kondisi darurat, setiap detik sangat penting. Tenaga medis tidak selalu ada di tempat kejadian pertama. Di situlah peran masyarakat menjadi krusial. Masyarakat dapat menolong korban untuk mengantisipasi terjadinya korban kehilangannya.
BHD bisa dilakukan oleh siapa saja: pelajar, guru, sopir, ibu rumah tangga, bahkan lansia. BHD ini juga bukan hal yang sulit untuk dilakukan dan dipelajarai di zaman sekarang ini. Mempelajari BHD bisa diakses dengan sangat mudah dan setiap orang adalah calon penyelamat.
Cara Mudah Belajar BHD
Anda bisa mulai belajar BHD melalui:
– Pelatihan langsung dari rumah sakit, PMI, atau institusi kesehatan.
Hal ini memang membutuhkan Kerjasama pihak Rumah Sakit, PMI dan Institusi Kesehatan untuk mendatangkan tenaga medis atau tenaga penyuluh lapangan untuk mengajarkan cara melakukan BHD secara detail. Dan ini adalah cara pertama yang tepat.
– Video edukasi dari sumber terpercaya seperti WHO atau AHA.
Di masa dengan teknologi informasi dan media yang serba cepat ini, kita- secara individu- bisa mempelajarinya dengan menyaksikan video BHD dari berbagai sumber atau kanal- kanal informasi. Tentu saja, dengan mempertimbangkan sumber yang bisa dipercaya dan menggunakan metode yang tepat dalam penanganan BHD bagi korban
– Simulasi di sekolah dan kantor sebagai bagian dari pelatihan keselamatan.
Simulasi merupakan tindakan continuity dalam pembelajaran BHD agar kesiapsiagaan masyarakat terhadap kejadian henti jantung dan henti nafas bisa dilakukan dengan spontan tanpa harus ada drama terlenih dulu.
Durasi pelatihan
Durasi pelatihannya pun relatif singkat—rata-rata 3–4 jam. Namun dampaknya bisa menyelamatkan nyawa seumur hidup.
Jangan Jadi Penonton, Jadilah Penolong Saat seseorang ambruk di hadapan kita, kita hanya punya dua pilihan: diam atau bertindak. Dengan pelatihan BHD, Anda memiliki kemampuan untuk memberi harapan hidup di saat yang paling genting.
Penting untuk diingat: otak mulai rusak permanen hanya dalam 4 menit tanpa oksigen. Ambulans tidak selalu tiba secepat itu. Tapi tangan Anda bisa menggantikan fungsi jantung untuk sementara waktu, hingga tim medis datang.
Penutup
Sebagai dokter spesialis anestesi, saya telah melihat langsung betapa pentingnya intervensi cepat sebelum korban tiba di ruang operasi atau IGD. Banyak kasus bisa diselamatkan, asal ada yang tahu dan mau bertindak sejak awal.
Mari jadikan BHD sebagai keterampilan wajib di setiap keluarga, sekolah, dan komunitas. Karena menyelamatkan nyawa bukan hanya tugas medis—ini adalah tanggung jawab kemanusiaan.
“Menjadi pahlawan tak selalu butuh seragam. Kadang, cukup dengan dua tangan dan kemauan untuk bertindak.”
Oleh: dr. Arsy Felicita Dausawati, Sp.An
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

