KATASUMBAR – Tiap 19 Desember diperingati sebagai Hari Bela Negara (HBN). Hari ini diperingati sebagai momen deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Pendirinya adalah MR.Syafruddin Prawiranegara. Sejumlah tempat menjadi basis PDRI, salah satunya adalah Koto Tinggi, Kabupaten 50 Kota.
Sebuah Kisah senyap tentang perjuangan Republik tersimpan di sebuah jembatan yang berlokasi di Mudiak Dadok, Jorong Sungai Dadok, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota-Sumbar.
Jembatan saksi perjuangan menentang agresi Belanda itu, bernama Jembatan Air Mata Yakub.
Terkait namanya yang memilukan, tersimpan sebuah cerita sedih yang menjadi latar belakangnya.
Zulfikri Tuanku Gindo, tokoh lokal sekaligus anak dari pelaku sejarah yang menyaksikan kejadian itu mengatakan, dahulunya daerah itu basis militer Republik semasa PDRI.
Untuk menjalin komunikasi dan konsolidasi dengan berbagai pihak demi membuktikan Indonesia masih berdiri di mata Internasional, tentu butuh sarana komunikasi.
Saat itu, yang tersedia hanyalah sebuah pemancar radio kuno. Pejuang mesti menggotongnya beramai-ramai karena sangat berat.
“Pejuang membawa pemancar radio ke sini, saat itu jembatan ini masih kecil dan terbuat dari kayu. Jembatan tak sanggup menahan berat dan patah,” kata Zulfikri dilansir KLIKPOSITIF, Senin 19 Desember 2022.
Akibatnya, pemancar yang sangat berharga itu, jatuh ke sungai Batang Angek. Tinggi jembatan ke permukaan sungai sekitar 4 meter.
“Kejadiannya malam-malam di tahun 1949, Bulan Februari. Semalam itu, orang beramai-ramai mengeluarkannya dari sungai. Pak Yakub menangis, karena pemancar radio itu rusak,”sambungnya.
Yakub yang dimaksud Zulfikri adalah M.Yakub Lubis, perwira dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang bertanggung jawab atas pemancar radio atau sender itu.
“Pak Yakub menangis, jika pemancar radio itu rusak bagaimana cara memberitahukan kepada dunia jika Indonesia masih ada? untungnya radio bisa berfungsi beberapa hari kemudian,”kata Zulfikri.
Akibat kejadian itu, hingga sekarang jembatan itu bernama Jembatan Air Mata Yakub.
Kekinian, sejak 2019 jembatan itu sudah dipermanenkan dengan ukuran 3,5 x 4 meter. Kendati telah berubah, namanya tetap Jembatan Air Mata Yakub.
Jembatan ini berada jauh dari pemukiman, di areal persawahan di tepi Bukit Barisan sehingga tak banyak warga melewatinya.
Tak disangka, di jembatan terpencil ini pernah terjadi sebuah peristiwa yang mengancam keutuhan Republik.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.


