KATASUMBAR – Universitas Andalas (UNAND) mendorong hilirisasi gambir di Sumatera Barat (Sumbar) agar komoditas tersebut tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Salah satu langkah yang tengah didorong UNAND yakni pengolahan gambir berstandar food grade hingga rencana pembangunan pabrik pengolahan gambir di Sumbar.

Rektor UNAND Efa Yonnedi mengatakan, gambir merupakan salah satu komoditas potensial yang dapat dikembangkan melalui riset dan kolaborasi dengan industri.

Menurutnya, pengolahan gambir menjadi produk food grade akan memberikan nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan menjualnya dalam bentuk bahan mentah.

“Kalau seandainya kita mendirikan pabrik gambir yang food grade, nilai tambahnya lebih tinggi dibanding kita mengekspor seperti yang sekarang ini,” kata Efa seusai Sidang Terbuka dan Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-70 UNAND di Auditorium Kampus Limau Manis, Kota Padang, Senin (14/9/2026).

Potensi tersebut didukung produksi gambir Sumbar yang cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, luas kebun gambir produktif di Sumbar mencapai 26.164,60 hektare dengan produksi gambir kering sebanyak 39.278,65 ton.

Komoditas tersebut dikelola sekitar 36.857 keluarga petani. Sumbar juga disebut memasok sekitar 64 persen kebutuhan gambir dunia dan sekitar 80 persen produksi gambir nasional.

Kabupaten Limapuluh Kota menjadi salah satu sentra utama gambir di Sumbar. Selain itu, Kabupaten Pesisir Selatan juga memiliki potensi gambir yang dapat dikembangkan dalam rantai industri pengolahan.

Dengan produksi yang besar tersebut, UNAND menilai gambir memiliki peluang dikembangkan lebih jauh sehingga tidak berhenti sebagai komoditas perdagangan dalam bentuk bahan mentah.

Efa mengungkapkan, UNAND bersama PTPN IV telah melakukan feasibility study atau studi kelayakan untuk rencana pendirian pabrik gambir.

Kajian tersebut mencakup dua wilayah di Sumbar, yakni Kabupaten Limapuluh Kota dan Pesisir Selatan.

Rencana pembangunan pabrik itu diharapkan dapat memperkuat ekosistem pengolahan gambir sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas yang selama ini menjadi salah satu produk unggulan Sumbar.

UNAND sendiri menempatkan gambir sebagai salah satu fokus riset pangan. Pengembangan riset tersebut berjalan bersama tiga bidang strategis lainnya, yakni kesehatan dan obat-obatan, kebencanaan serta energi terbarukan.

Efa mengatakan, arah riset UNAND ke depan tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan prototipe hingga produk yang dapat menjawab kebutuhan industri dan pasar.

“Kita mengembangkan produk itu bersama industri, rumusan masalahnya berangkat dari kebutuhan, baru kita riset, hasilkan prototipe sehingga nanti bisa berlaku di pasar,” ujarnya.

Hilirisasi gambir bukan hal baru bagi UNAND. Sejumlah penelitian telah dikembangkan menjadi produk yang memanfaatkan senyawa dan potensi tanaman gambir.

Salah satunya tinta berbahan dasar gambir yang dikembangkan peneliti UNAND dan telah digunakan untuk kebutuhan Pemilu dan Pilkada. Teknologi tersebut juga dikembangkan untuk kebutuhan tinta pena dan spidol.

Selain itu, UNAND mengembangkan ekstrak katekin dengan tingkat purifikasi tinggi serta tanin untuk kebutuhan industri kimia dan farmasi.

Di sektor perawatan diri, riset gambir dikembangkan menjadi berbagai produk seperti kosmetik, sabun, losion hingga sampo antiketombe.

Sementara di bidang pangan dan minuman, inovasi yang dikembangkan antara lain teh gambir, kopi gambir dan matcha gambir.

UNAND juga mengembangkan teknologi pendukung pengolahan gambir, termasuk alat pres daun gambir yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi proses ekstraksi.

Beragam inovasi tersebut menunjukkan gambir memiliki peluang pemanfaatan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar dijual dalam bentuk bahan mentah.

Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil riset tersebut dapat masuk ke tahap produksi dan dipasarkan dalam skala lebih besar.

Karena itu, UNAND mendorong pola kolaborasi dengan industri sejak tahap perumusan masalah hingga pengembangan produk.

Dengan pola tersebut, riset gambir diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu menciptakan nilai tambah bagi petani, industri dan perekonomian Sumatera Barat.

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.