Site icon Kata Sumbar

Tentang Muaro Lasak: Tempat Segala Sampah Bermuara

KATASUMBAR – Sampah di Pantai Padang sudah jadi pemandangan biasa bagi orang Purus. Menurut mereka, pantai ini sudah jadi langganan sampah sejak puluhan tahun lalu. “Bahkan ketika saya belum lahir,” ucap Ujang (57), seorang nelayan yang kini bertaruh nasib jadi tukang parkir.

Muaro Lasak adalah rumah bagi Ujang. Ia tumbuh bersama asinnya laut dan teriknya kehidupan ala orang pantai.

“Dulunya disini bagus, ombaknya besar, indah, banyak orang surfing. Sekarang sudah berbeda, sampah adalah bagian dari kami, atau kami lah yang sampah sebenarnya? Entahlah,” katanya meski bicara soal sampah menjadi sebuah pengakuan yang pelik bagi dirinya.

Selain uang, ombak dan badai, orang Puruih kini juga bertarung dengan sampah. Sebab, periuk nasi hanya akan mengepul jika wisatawan ramai berkunjung, tapi dengan sampah, jika pantai tidak bersih, pengunjung otomatis sepi. “Jangankan pengunjung, setanpun akan menjauh,” tukas Ujang.

Lain Ujang, lain pula Surya. Puluhan tahun lalu, mudah saja orang-orang Muaro Lasak menangguk ikan di pinggir pantai, dan tidak pernah merasa sulit dengan ketersediaan ikan di laut.

“Muaro Lasak ini adalah muaranya para ikan-dulu. Bermacam jenisnya. Tiga jam saja kami menjala sudah bisa bawa uang banyak, cukup untuk makan, sekolah anak dan beli motor. Sekarang, hanya ada sampah,” kenang Surya.

Kini, kenangan tentang Muaro Lasak yang indah itu hanya tinggal cerita. Pantai itu kini tidak ubahnya dengan muaranya sampah orang-orang hulu. Pada Juni 2020 lalu, tercatat tumpukan sampah disana pernah mencapai 300 ton.

“Jika dibersihkan semuanya, diperkirakan akan selesai dalam satu minggu. Tinggi sampah ini mencapai 3 meter dari tanah. Kalau hari hujan, maka bisa bertambah lagi,” kata Kasi Peralatan Dinas PUPR Kota Padang, Syamsu Rinal.

Kondisi ini tentu bukan rumah yang nyaman lagi bagi ikan. Sejak akrab dengan sampah, hampir tidak ada lagi ikan di Muaro Lasak kata Surya, “Yang ada cuma sampah, ikan sudah di tengah,” sebutnya.

Berharap pada pemerintah pun sepertinya akan sulit. Ujang dan Surya bersepakat bahwa menyelesaikan masalah sampah di Muaro Lasak bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, akar masalah dari sisa konsumsi orang-orang hulu sungai ini tidak hanya pada hujan.

Menurut Ujang, keberadaan seawall yang menjorok ke laut di kawasan Cimpago telah merubah arus perairan di pinggir pantai. Ketika hujan deras, sampah-sampah dari Batang Harau, Banda Kali, dan Batang Siteba bermuara ke Muaro Lasak.

“Jadinya pantai kami ini serupa muara segala sampah. Mulai dari sampah makanan, sampah tumbuhan, bangkai hingga mayat manusia pun pernah kami temukan disini. Kami sih cuma mau, pemerintah bertindak sebab disini kami hidup,” jelas Ujang.

“Jadi kalau pun akan dibangun lagi seawall atau batu beronjongan, harusnya memikirkan banyak aspek. Jangan malah nanti malah kami lagi yang jadi korban,” tegasnya kemudian.

Seawall

Di sisi lain, Pemerintah Kota Padang saat ini berupaya untuk mengatasi masalah sampah ini dengan membangun seawall alias dinding laut yang membentang di pinggir pantai Muaro Lasak.

Kepala Dinas Pariwisata Padang, Arfian mengungkapkan pembangunan seawall ini menggunakan dana siap pakai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2020 lalu sebagai langkah antisipasi abrasi.

“Dananya Rp19 miliar untuk tiga titik di Pantai Padang, Muaro Lasak dan Pasir Jambak. Kini di Muaro Lasak pengerjaan seawall sudah dimulai,” katanya.

Lalu, Arfian juga menyinggung masalah sampah ini sebagai tanggung jawab bersama antar stakeholder pemerintah. Sebab, ia memandang, ada faktor abai dari masyarakat sehingga sistem pengelolaan sampah dari hulu tidak berfungsi maksimal sesuai dengan Perda Padang tentang sampah yang dibuat tahun 2012 lalu.

“Perdanya sudah ada, ancamannya juga sudah ada. Tinggal lagi bagaimana penegak Perda, Lurah dan Camat mengawasi tindak tanduk warga yang masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Kapan perlu kalau ada pelanggaran, langsung tipiringkan,” jelas dia.

Dengan seawall ini, Arfian optimis masalah sampah ini bisa terselesaikan. Ia berpedoman pada kawasan pantai di Jalan Samudera, tepatnya sekitaran Gedung Budaya Sumatera Barat.

“Disana sejak ada batu beronjongan sampah kiriman dari hulu ini sudah tidak ada lagi. Saya yakin dengan seawall, Muaro Lasak bukan lagi jadi muaranya sampah. Semoga saja,” pungkasnya kemudian.(*)

*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.

****

Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini)  😊

*

Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.

Exit mobile version