Disutradarai Ridhohassmar dengan komposer Fadhil Asy’ari, pertunjukan tersebut menghadirkan kisah Siti Nurbaya dari sudut pandang pergulatan batin seorang perempuan yang kehilangan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Dalam garapan ini, kisah Siti Nurbaya tidak hanya disajikan sebagai rangkaian peristiwa, tetapi juga sebagai gambaran dunia psikologis tokoh utama yang dipenuhi ketakutan, halusinasi, mimpi buruk, dan tekanan lingkungan sosial.
Gaya surealis diwujudkan melalui penggunaan visual simbolik, gerakan tubuh yang patah dan berulang, bisikan-bisikan petuah adat, serta permainan cahaya yang membangun suasana gelap dan menekan.
Secara artistik, pertunjukan menggunakan dominasi warna hitam, putih, dan merah. Ketiga warna tersebut menjadi simbol tekanan dan ketakutan, kesucian dan harapan, serta luka batin dan penderitaan yang dialami tokoh utama.
Kain putih panjang digunakan sebagai simbol jerat adat, sementara cermin pecah menggambarkan identitas yang hancur. Kursi pengantin menjadi simbol tekanan sosial yang membatasi pilihan hidup perempuan.
Tekanan tersebut juga diperkuat melalui tata gerak para pemain. Tokoh Siti Nurbaya digambarkan bergerak seolah-olah ditarik oleh tali tak kasatmata, sedangkan pemain lain melakukan gerakan repetitif yang menghadirkan kesan bahwa tekanan adat terus membayangi kehidupannya.
Dari sisi tata suara, komposisi musik memadukan bunyi talempong dan saluang dengan napas berat, detak jantung, serta bisikan petuah adat yang diputar berulang. Efek suara hujan, langkah kaki, dan dentuman keras turut membangun ketegangan sepanjang pertunjukan.
Pada bagian klimaks, Siti Nurbaya duduk di kursi pengantin dengan tubuh dibalut kain putih panjang yang ditarik dari berbagai arah. Upayanya untuk melepaskan diri justru membuatnya semakin terikat. Cahaya merah dan suara petuah adat yang semakin keras mempertegas gambaran tekanan batin yang dialaminya.
Melalui pertunjukan ini, Teater Janjang Palito menghadirkan kritik terhadap tekanan sosial dan praktik adat yang dapat membatasi kebebasan perempuan dalam menentukan pilihan hidup. Kisah Siti Nurbaya menjadi refleksi tentang perempuan yang terjebak di antara kewajiban keluarga, tuntutan lingkungan, dan keinginan untuk merdeka atas dirinya sendiri.
Pertunjukan Nurbaya dimainkan oleh Ririn Chayrunisa, Miyah Agustina, Nabila Muthi Ramadhani, Anindita Raina Danastri, dan Nada Fitriya Irawan.
*
Silahkan bergabung di Grup FB SUMBAR KINI untuk mendapatkan informasi terupdate tentang Sumatera Barat.
****
Dapatkan info berita terbaru via group WhatsApp (read only) KATASUMBAR / SUMBAR KINI (Klik Disini) 😊
*
Suscribe YOUTUBE KATA SUMBAR untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bentuk video.
